Jember (beritajatim.com) – Teknologi informasi dan digital membawa optimisme menghadapi penyakit tropis saat ini. Hal ini dikemukakan Slamin, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
“Society 5.0 menawarkan peluang unik untuk mengatasi tantangan penyakit tropis dan agrikultur melalui integrasi teknologi canggih,” kata Slamin, saat membuka International Conference on Agromedicine & Tropical Disease 2024 (ICAD 2024) kelima, di Universitas Jember, Kamis (1/8/2024), sebagaimana dilansir Humas Unej.
Tantangan penyakit tropis seperti perubahan iklim, deforestasi, dan urbanisasi berkontribusi memunculkan penyakit tropis baru seperti resistensi obat dan infrastruktur kesehatan yang kurang memadai di banyak wilayah tropis, membuat manajemen dan pengobatan menjadi sulit.
Menurut Slamin, dengan memanfaatkan integrasi teknologi dan mahadata, manusia bisa mengembangkan solusi inovatif yang meningkatkan hasil kesehatan dan meningkatkan produktivitas agrikultur. “Akhirnya menciptakan masyarakat yang lebih tangguh dan berkelanjutan.” katanya.
Kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) dan mahadata dapat dimanfaatkan untuk membuat model wabah, memprediksi penyebarannya, dan mengembangkan intervensi yang tepat sasaran. “Sekaligus mengembangkan teknologi wearable seperti smartwatch yang memungkinkan kita memantau kesehatan kapan saja,” kata Slamin.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jember Ulfa Elfiah berharap konferensi internasional ini dapat memperluas pengetahuan dan menginspirasi banyak pihak tentang cara memanfaatkan teknologi untuk memperbaiki kesehatan global, khususnya dalam bidang agromedis dan penyakit tropis.
Apalagi acara itu diikuti 200 peserta yang hadir secara luring dan 1.693 peserta yang hadir secara daring dari Jepang, Brazil, Amerika Serikat, Malaysia, dan Indonesia. “Kami memilih topik Society 5.0: Tantangan dan Peluang Baru pada Penyakit Tropis dan Agromedis karena landscape agromedis dan penyakit tropis tidak bisa dihindarkan dari pengaruh perubahan karakteristik masyarakat.” kata Ulfa.
Ulfa percaya kegiatan itu akan memfasilitasi partisipan secara luas dan mendorong dialog yang lebih inklusif di antara para ahli dari seluruh penjuru dunia. “Bagaimana teknologi dapat meningkatkan bidang medis dan pengetahuan sains, dan pada akhirnya memberikan manfaat bagi komunitas di seluruh dunia,” katanya. [wir]






