Surabaya (beritajatim.com) – Tim Dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya mengembangkan konsep Kampung Darlink Berseri (meditasi, bersih, dan sehat) lewat inovasi platform Investasi Sampah Digital (ISD).
Dengan inovasi digital berupa ISD tersebut, masyarakat Surabaya, khususnya di Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng, Surabaya akan dapat mengatasi masalah pengelolaan limbah, sekaligus meningkatkan pendapatan.
“Platform ini memfasilitasi pengumpulan dan pertukaran limbah organik dan anorganik untuk mendapatkan mata uang digital yang berkontribusi pada pendapatan masyarakat dan keberlanjutan,” kata Ketua Tim Riset Halimatus Sa’diyah, Kamis (1/8/2024).
Dalam pengabdian yang dilakukan, tim melakukan sejumlah kegiatan seperti edukasi tentang kesadaran lingkungan, penanaman tanaman hijau, hingga penyediaan bank sampah rumah tangga.
“Selanjutnya kami mengembangkan aplikasi ISD untuk transaksi limbah digital pada warga. Lalu memproses limbah yang dikumpulkan menjadi produk bernilai dan menciptakan rumah bisnis untuk mengelola dan menjual hasil pengelolaan limbah tersebut,” jelasnya.
Dengan program itu, harapannya akan tercapai lingkungan yang bersih, meningkatnya pendapatan masyarakat, dan terbentuknya kampung Darlink Berseri. Itu bisa dilihat dari jumlah unit limbah digital, partisipasi dalam aplikasi ISD, dan penjualan produk yang berasal dari limbah.
Halimatus memaparkan, ada sejumlah konsep Kampung Darlink Berseri yang diterapkan di Mojo, Gubeng, Surabaya. Di antaranya, edukasi tentang pentingnya kesadaran lingkungan, kebersihan, dan kesehatan.
“Ini termasuk penanaman tanaman hijau di setiap titik sasaran wilayah untuk mengurangi polusi dan membuat udara menjadi lebih sehat,” jelasnya.
Kemudian penyediaan bank sampah. Di mana, setiap rumah di Kelurahan Mojo diberikan tong sampah untuk memilah dan mengumpulkan sampah organik dan anorganik.
Selanjutnya aplikasi ISD. Aplikasi ini dikembangkan untuk memfasilitasi transaksi penukaran sampah secara digital. Sampah anorganik yang dikumpulkan dapat ditukarkan menjadi uang digital, yang akan menjadi tambahan pendapatan bagi masyarakat.
“Sampah yang terkumpul akan diolah untuk didaur ulang oleh mitra kerjasama, yaitu Ibu-ibu PKK Kelurahan Mojo. Hasil olahan sampah ini akan dijadikan produk kreatif yang bisa dijual,” papar Halimatus.
Ia menambahkan, tim juga membentuk rumah bisnis atau tempat pengelolaan sampah menjadi produk yang bernilai jual. Produk yang dihasilkan melalui proses ini akan dijual melalui media sosial dan kanal penjualan lainnya.
Program ini akan bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kebersihan Kota Surabaya, Dinas Pariwisata, dan UMKM, untuk mendukung pelaksanaan program dan pengembangan wisata sampah digital.
“Program ini diukur dari berbagai indikator, seperti jumlah tanaman yang ditanam, lingkungan yang bersih dari sampah, penggunaan aplikasi ISD, pendapatan tambahan masyarakat, dan pengelolaan sampah yang efektif,” jelasnya.
Halimatus menyebut, pengelolaan sampah di Surabaya dapat dilakukan dengan inovatif, yakni memadukan pendekatan sosial, ekonomi, dan teknologi. Selain itu, juga menunjukkan komitmen dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. [ipl/but]






