Bondowoso (beritajatim.com) – Petani tembakau di Kabupaten Bondowoso mulai memasuki masa panen pertengahan tahun ini. Tetapi, mereka khawatir cuaca berubah secara ekstrem, sehingga menurunkan kualitas dan harga tembakau.
Seperti dituturkan salah satu petani tembakau Desa Pejagan, Kecamatan Jambesari Darusholah, Sulton Agus Salim. Sulton mengaku baru akan panen tembakau pada Agustus besok
“Karena saya tanam Mei kemarin. Jadi baru besok panen perdana,” katanya kepada beritajatim.com, Rabu, 31 Juli 2024.
Petani yang memiliki lahan tadah hujan, biasanya tanam pada April dan mulai panen awal Juli. Sedangkan untuk lahan teknis persawahan, petani tembakau mulai panen di akhir Juli hingga Agustus 2024 ini.
Menurut Sulton, cuaca saat ini cukup mendukung. Terik matahari dirasa sempurna untuk penjemuran tembakau.
“Semakin terik, semakin bagus ke tembakau. Kami harap harga tembakau bisa tembus seperti tahun lalu,” harapnya.
Ia menyebut, kualitas tembakau yang dihasilkan petani Bondowoso tahun 2023 lalu kategori super. Sehingga harganya bisa tinggi.
“Untuk kasturi sempat tembus Rp70 ribu per kilogram. Kami untung 100 persen, sebab biaya produksi per kilogram tembakau kering sekitar Rp35 ribu per kilogram,” terangnya.
Namun ia juga waspada adanya potensi perubahan iklim pada Agustus 2024 ini.
“Karena kalau waktu panen justru mendung atau bahkan hujan, kualitas tembakau turun dan harga jual bisa anjlok,” paparnya.
Dia ingat pada 2015 dan 2020 lalu. Saat itu, harga jual tembakau kasturi anjlok, hanya sebesar Rp4.000 sampai Rp7.000 per kilogram.
“Tembakau saat itu nggak ada harganya,” kenangnya.
Pada 2015, kualitas tembakau merosot disebabkan paparan abu vulkanis erupsi Gunung Raung. “Sedangkan tahun 2020 itu karena hujan deras di saat masuk waktu panen tembakau,” tutur Sulton.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bondowoso, Ahmad Yasid juga senada.
“Sebagian wilayah sudah mulai panen tembakau. Dari 7.500 hektar se Bondowoso, 30 persen di antaranya sudah mulai panen,” terangnya dikonfirmasi terpisah.
Pria yang juga Sekretaris APTI Jawa Timur ini cukup ketar-ketir dengan perubahan iklim. Bahkan ada yang menyebut potensial terjadi kemarau basah.
“Tahun ini memang agak mengkhawatirkan. Cuacanya tidak sepenuhnya mendukung untuk pertanian tembakau,” ulasnya.
Berbeda dengan tahun 2023 lalu, kualitas tembakau ciamik. Sehingga banyak pabrikan rokok yang memborong tembakau petani Bondowoso.
“Tahun kemarin untuk harga voor oogst kasturi antara Rp65 ribu sampai Rp85 ribu per kilogram. Sedangkan rajangan kisaran Rp55 ribu-Rp 65 ribu per kilogram,” sebut Yasid.
Dengan angka itu, petani tembakau Bondowoso disebutnya cukup sejahtera.
“Sebab BEP (Break Event Point) kisaran Rp35 ribu untuk rajangan dan Rp47 ribu untuk kasturi. Jadi masih untung banyak,” ucap warga Desa Pekalangan, Kecamatan Tenggarang tersebut. [awi/beq]






