Ponorogo (beritajatim.com) – Angka Total Fertility Rate (TFR) atau angka kelahiran total di Kabupaten Ponorogo menurun. Data dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Ponorogo, tahun 2022, TFR di Bumi Reog angkanya 1,95.
Sementara untuk tahun 2023, angkanya turun tipis menjadi 1,91. Penurunan angka TFR itu, diungkapkan langsung oleh Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko dalam peringatan ke-31 hari keluarga nasional di Gedung Sasana Praja. Dengan turunnya angka TFR itu, Bupati Sugiri berharap ke depan Ponorogo menuju keluarga yang berkualitas. Yakni anak tidak stunting, sehat dan berakhlak bagus.
“Angka TFR menurun, dari sebelumnya tahun 2022 diangka 1.95 dan pada tahun 2023 menurun diangka 1.91. Mudah-mudahan menuju keluarga yang berkualitas,” kata Bupati Sugiri Sancoko, Selasa (30/07/2024).
Untuk diketahui, TFR merupakan ukuran statistik yang digunakan untuk menggambarkan rata-rata jumlah anak, yang akan dilahirkan oleh seorang perempuan selama usia reproduktifnya. Usia produktif itu, diantara umur 19 tahun hingga 49 tahun. Dengan melihat angka tersebut, bisa dibilang bahwa di Kabupaten Ponorogo, 1 keluarga melahirkan 1-2 anak saja. Sesuai dengan anjuran dalam Program Keluarga Berencana.
“Jadi dalam beberapa tahun ini, dalam 1 keluarga di Ponorogo, akan melahirkan 1-2 anak saja,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Kang Giri sapaan Bupati Sugiri Sancoko juga mengungkapkan turunnya angka pernikahan di Indonesia. Apalagi, dalam kurun waktu 10 tahun, penurunannya cukup signifikan. Pada tahun 2013 dulu, angka pernikahan sebanyak 2,2 juta. Sementara pada tahun 2023, turun menjadi 1,5 juta.
“Angka pernikahan dari waktu ke waktu turun signifikan,” ungkapnya.
Asyik dengan status sendiri, menurut Bupati Sugiri membuat banyak orang di Indonesia tidak menikah. Ia pun khawatir ke depan, akan kekurangan bayi lahir. Himbauan Program KB itu, bukan hanya tidak boleh punya anak, namun untuk mempunyai anak yang berkualitas.
“Himbauan KB itu, bukan tidak berarti tidak boleh punya anak. Tetapi punya anak yang berkualitas, tidak stunting, sehat dan berakhlak bagus,” pungkasnya. [end/ian]






