Sampang (beritajatim.com) – Di era tahun 80 hingga 90-an seni ukir Lencak Palek atau ranjang ulir (tempat tidur) sangat terkenal di pulau Madura, khususnya di Kabupaten Sampang. Bahkan kala itu, toko furniture yang menjual Lencak Palek diserbu pembeli apalagi saat musim hajatan pernikahan.
Lencak Palek menjadi salah satu syarat utama bagi mempelai pria ketika hendak meminang perempuan pujaan hatinya.
“Lencak Palek ini mulai punah sekitar tahun 2000-an karena permintaan pasar semakin menurun, kami para pengerajin Lencak Palek gulung tikar,” ujar Mashudi, perajin Lencak Palek di Dusun Mandanging, Desa Aeng Sareh, Kecamatan/Kabupaten Sampang, Rabu (24/7/2024).
Pria yang akrab disapa Hudi ini juga mengaku jika kala itu sampai kewalahan untuk memenuhi pasar. Sebab, Lencak Pelek juga menjadi ciri khas tempat tidur bagi warga Madura dan banyak diminati karena terbuat dari kayu jati. Namun, seiring perkembangan jaman, pangsa pasar Lencak Pelek berubah dan digilas oleh furniture produksi pabrikan.
“Tempat tidur produski pabrik seperti spring bad dan kasur busa, semakin diminati sehingga keberadaan Lencak Pelek saat ini sudah punah,” imbuhnya.
Hal senada juga dikatakan oleh Takim pengerajin Lencak Palek asal Dusun Masaran. Ia mengaku masih menerima pemesanan pembuatan Lencak Palek. Sebab, masih ada saja warga yang ingin membeli Lencak Palek. Namun, hanya itu menjadi tempat tidur biasa bukan untuk keperluan lainnya.
“Masih ada tapi sudah jarang sekali hampir setahun sekali itupun belakangan ini sudah tidak ada yang memesan,” ujarnya.
Sekadar diketahui, Lencak Palek merupakan warisan seni kriya budaya leluhur. Lencak artinya ranjang dan Palek artinya memutar atau meliuk. Jadi Lencak Palek merupakan ranjang tradisional yang dipenuhi dengan ornamen ukiran kayu yang artistik.
Ukirannya dominan motif bunga, buah nanas, serta burung. Adapun ukiran Palek atau meliuk-liuk terdapat pada tiang kayu penyangga ranjang. Umumnya Lencak Palek dibuat dari kayu jati atau kayu akasia. [sar/but]






