Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan wisuda periode ke-114 tahun 2024. Wisuda ini diselenggarakan selama dua hari, yaitu 16 dan 18 Juli 2024 di Gedung Dome UMM.
Wisuda UMM ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, salah satunya Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Wamen LHK RI) Alue Dohong, M.Sc.,Ph.D. Dalam orasi ilmiahnya Alue Dohong menyebut bahwa Indonesia adalah lumbungnya energi baru terbarukan.
“Ada berbagai cara yang dilakukan untuk mengatasi gas rumah kaca, salah satunya mengembangkan energi baru terbarukan. Kita optimalkan karena pemanfaatannya masih rendah. Kalau saya bilang itu Indonesia lumbungnya energi baru terbarukan,” ujarnya.
Namun, Alue Dohong mengingatkan soal tantangan global yang dihadapi dunia saat ini bernama tiga krisis planet atau triple planetary crises. Hal itu menentukan masa depan kehidupan yang baik dan sehat di Planet Bumi.
“Tiga krisis planet mengacu pada tiga masalah utama, yang saling terkait, yang saat ini dihadapi oleh seluruh umat manusia, yaitu perubahan iklim, hilangnya alam (keanekaragaman hayati), serta polusi dan limbah,” ujar pria jebolan S3 di Universitas Queensland tersebut.
Menurut Wamen LHK, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki sumber daya alam yang besar dan keanekaragaman hayati tinggi serta letak geografis dan klimatologi yang strategis. Namun juga sangat rentan terkena dampak perubahan iklim.
Peningkatan suhu perubahan pola curah hujan naiknya permukaan air laut dan naik ke permukaan laut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem alam. Kondisi di Indonesia juga menyebabkan migrasi populasi dan bahkan kepunahan jenis tertentu.
“Polusi yang tentu kita tahu berimplikasi pada degradasi lingkungan juga dapat berdampak negatif pada keanekaragaman hayati mempengaruhi kualitas habitat dan kesehatan flora dan fauna,” jelasnya.
Menurut Alue Dohong, polusi utama polusi udara dari berbagai partikel dan gas yang dilepas ke atmosfer berasal dari berbagai sumber. Diantaranya, industri kendaraan bermotor, pembakaran bahan bakar fosil, berkontribusi signifikan terhadap perubahan iklim global.
“Masalah perubahan iklim menjadi masalah yang sangat perlu menjadi perhatian serius bagi semua negara. Kita merespon terhadap perubahan iklim, Indonesia telah mengatur langkah dalam mengatasi dampak perubahan iklim baik yang bersifat mitigasi maupun adaptasi terhadap perubahan iklim dengan berlandaskan pada undang-undang dasar tahun 1945,” lanjutnya.

Undang-undang dan peraturan pelaksanaan mitigasi telah memperhatikan berbagai kesepakatan konferensi internasional dan pedoman. Negara menjamin kehidupan dan lingkungan yang layak bagi warga negaranya.
“Hal ini menjadi dasar Indonesia untuk pengendalian perubahan iklim pemerintah telah menetapkan arah mengurangi emisi gas rumah kaca atau GRK dalam rangka pengendalian perubahan iklim. Pengurangan emisi ditargetkan dari 5 sektor yaitu sektor kehutanan dan tata guna lahan, energi, limbah, industri, dan sektor pertanian,” kata Alue Dohong di hadapan wisudawan UMM.
Dalam kesempatan ini Rektor UMM, Prof. Dr. H. Nazaruddin Malik, M.Si., menitipkan pesan kepada wisudawan ke-114. Dijelaskannya, pendidikan adalah work in progress yang tidak pernah ada akhirnya.
“Oleh karena itu para wisudawan dan wisudawati yang berbahagia teruslah berproses untuk kehidupan agar berkontribusi pada peradaban yang lebih maju umum terus akan berkomitmen meneguhkan diri untuk Istiqomah membangun SDM Indonesia yang tidak sekadar unggul tapi juga adalah manusia-manusia yang Ulul Albab,” tutup Prof Nazaruddin. [dan/aje]






