Jember (beritajatim.com) – Lebih dari sekedar tempat nongkrong dan menikmati segelas susu, Kafe Susu Tuli (K-SULI) menawarkan peluang kemandirian dan pemberdayaan bagi para penyandang disabilitas, khususnya tunarungu.
Berawal dari inspirasi sang anak, Kanza, yang memiliki kebutuhan khusus tuna rungu, Sumoko Hadi mendirikan K-SULI pada 9 April 2021.
Keinginan Kanza untuk memiliki tempat yang ramah bagi para penyandang disabilitas seperti yang pernah ditemuinya di Yogyakarta menjadikan Sumoko Hadi memiliki tekad kuat untuk mewujudkannya.
Meskipun sempat terhenti beberapa bulan akibat meninggalnya sang anak, Kanza. K-SULI bangkit kembali dengan semangat baru. Sumoko Hadi memiliki visi yang kuat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung para penyandang disabilitas untuk bekerja secara mandiri.
Terletak di Jl. Manggis No.95, Krajan, Jemberlor, Kec. Patrang, Kabupaten Jember. bekerjasama dengan para staff berkebutuhan khusus tuna rungu, Para pelanggan tidak hanya dapat menikmati hidangan yang lezat, tetapi juga dapat belajar bahasa isyarat dasar melalui para staff maupun poster poster yang terpasang di dinding.
KSULI juga bekerja sama dengan lembaga pendidikan khusus di Jember untuk memberi pendampingan serta latihan bagi anak anak disabilitas lainnya. Dalam program ini, mereka tidak hanya dibekali dengan keterampilan kerja, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya keberagaman serta lingkungan yang mendukung untuk berkembang.
“Kedai Susu Tuli disambut positif oleh masyarakat. dibuktikan dengan kegiatan Kedai Susu Tuli yang selalu mendapat izin Pemerintah setempat. Disisi lain, kalangan akademisi juga mendukung adanya Kedai Susu Tuli. Ddukung dengan adanya kerjasama dengan UKMKI SIKLUS FISIP UNEJ, FISIP UNEJ dan LP2M UNEJ melalui Promahadesa UNEJ” ujar Bara, Mahasiswa Kesejahteraan Sosial UNEJ.
K-SULI tidak hanya menjadi tempat nongkrong biasa, tetapi juga sebagai sebuah simbol dari kemandirian bagi anak anak penyandang disabilitas. kegigihan Sumoko Hadi dan para staff dalam mewujudkan mimpi Kanza membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk terus berkarya. (ted)






