Surabaya (beritajatim.com) – Tim mahasiswa UPN Veteran Jatim menciptakan Preesma 3 in 1, yakni alat penghalus, pemeras dan penyaringan untuk meningkatkan produktivitas usaha jamu di Sidoarjo.
Tim ini beranggotakan 5 orang mahasiswa, antara lain Kholin Gio Farel, Sukma Puji Lestari, Intan Kusumaningsih, Arya Gading Dewantara, dan Naimul Falah. Mereka dibimbing oleh dosen Dra Endang Iryanti.
Anggota tim, Farel mengatakan, ide pembuatan alat ini bermula dari persoalan yang dihadapi UMKM Jamu Mbok Nur Sidoarjo. UMKM ini bergerak di pengolahan jamu tradisional ready to drink yang sudah bersertifikasi halal.
“Produk yang dihasilkan antara lain jamu sinom, jamu kunyit asam, jamu kunyit asam beluntas, jamu beras kencur, dan jamu sirih, yang dibuat dari tanaman obat dan rempah pilihan tanpa bahan pengawet dan pemanis buatan,” kata Farel, Jumat (28/6/2024).
Ia menyebut, jamu tradisional Mbok Nur ini sangat diminati masyarakat karena cita rasanya yang khas dengan sari rempah yang mendominasi serta harga yang bersaing di pasar.
UMKM ini mampu memproduksi 1.680 botol setiap bulan. Namun, proses produksinya masih menghadapi masalah, terutama dalam hal penghalusan bahan, pemerasan sari rempah, dan penyaringan yang dilakukan secara manual selama 7 jam terus-menerus.
“Tentunya hal ini menyebabkan kelelahan tinggi bagi pekerja dan terkadang keterlambatan dalam pemenuhan permintaan pelanggan,” ungkapnya.
Proses manual ini juga kurang steril karena melibatkan banyak tangan berbeda dan kapasitas alat yang kecil. Hal ini meningkatkan risiko kontaminasi mikroorganisme dan bakteri E. coli yang dapat mempengaruhi kualitas produk.
Selain itu, biaya tenaga kerja menjadi tinggi. Oleh karena itu, Farel dan timnya berinisiatif membuat alat penghalusan, pemerasan, dan penyaringan jamu untuk mempermudah proses produksi.
Farel menerangkan, alat ini menggunakan mata pisau berbentuk spiral untuk menghaluskan rempah, kemudian rempah diperas hingga sari rempah keluar dan dialirkan ke corong yang mengarah ke penyaring.
“Penyaring ini didesain dengan lubang kecil agar sari rempah terpisah baik dari seratnya. Dengan alat ini, proses produksi yang sebelumnya memakan waktu 7 jam dapat dipangkas menjadi kurang dari 2 jam dengan kuantitas lebih dari 10 kilogram per produksi,” terangnya.
“Produk juga menjadi lebih higienis dan telah diuji di Laboratorium Pengujian Terpadu UPN Veteran Jawa Timur,” tambahnya.
Pemilik usaha Jamu Mbok Nur, Mudji Astutik mengaku terbantu dengan alat ini. Produksi jamu yang sebelumnya hanya dua atau tiga kali seminggu kini bisa mencapai lima kali seminggu, sehingga permintaan pasar terpenuhi dan biaya tenaga kerja berkurang.
“Alat ini memungkinkan produksi lebih banyak dan distribusi hingga ke luar kota, yang dalam jangka panjang akan membantu meningkatkan kualitas produk, jumlah produksi, dan profitabilitas usaha secara berkelanjutan,” tuturnya. [ipl/suf]






