Bojonegoro (beritajatim.com) – Krisis iklim dan kerusakan lingkungan menjadi topik yang banyak diperbincangkan. Dampak yang terjadi adanya krisis iklim ini cukup beragam dan bagi keberlangsungan hidup rawan menyerang kelompok rentan, seperti anak-anak, perempuan, maupun orang tua.
Untuk itu, sejumlah remaja di Kabupaten Bojonegoro melakukan penguatan mitigasi maupun adaptasi dalam menghadapi suhu bumi yang terus meningkat dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, dan semakin nyata menimbulkan berbagai bencana lingkungan.
Direktur Bojonegoro Institute, Aw Saiful Huda yang menginisiasi diskusi tentang krisis iklim bagi para pelajar dan mahasiswa di Kabupaten Bojonegoro itu mengajak semua agar lebih peka terhadap perubahan iklim dan memiliki pola adaptasi.
“Pemuda dan pelajar merupakan generasi masa depan, yang akan menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan lingkungan, termasuk ketersediaan sumber daya alam menipis dan ancaman krisis iklim,” ujarnya, Jumat (28/6/2024).
Krisis iklim terjadi akibat peningkatan pemanasan global yang disebabkan peningkatan emisi karbon yang tidak terkendali. Deforestasi dan penggunaan energi fosil menjadi penyumbang terbesar peningkatan emisi global.
Pria yang karib disapa Awe itu menambahkan, beberapa dampak krisis iklim yang nyata terjadi diantaranya seperti cuaca ekstrim, banjir, kekeringan hingga ancaman terjadinya krisis pangan dan krisis kesehatan global.
Laporan Global Carbon Project, menempatkan Indonesia berada dalam urutan ke-7 dari 10 negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia. Menurut laporan ini, kenaikan emisi Indonesia disumbang oleh penggunaan energi fosil, alih fungsi lahan dan deforestasi yang tinggi.
Dampak krisis iklim di Indonesia pun disinyalir akan terus meningkat, semakin parah. Termasuk di Kabupaten Bojonegoro. Karena itu, kata dia, harus ada upaya serius untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Untuk diketahui, dalam workshop aksi generasi iklim itu digelar Bojonegoro Institute bekerja sama dengan Pusat Telaah dan Informasi Regional (PATTIRO) sebagai bagian dari mitra Ford Foundation yang telah diarahkan dan ditetapkan oleh Bagian Perencanaan Setditjen Bina Bangda untuk bekerja sama dengan Subdit Sosial dan Budaya Direktorat SUPD III.
Dalam kegiatan tersebut mitigasi krisis iklim itu dipandu oleh Pegiat Yayasan Adopsi Hutan Jawa Timur, Putut Prabowo. Dari hasil workshop tersebut diharapkan para pelajar dan mahasiswa itu bisa lebih meningkatkan pengetahuan serta awereness tentang krisis iklim dan dampaknya bagi keberlangsungan hidup.
“Setelah adanya workshop ini, harapannya bisa tingkatkan pengetahuan dan awareness kalangan pemuda dan pelajar Bojonegoro terkait dampak krisis iklim. Termasuk memberikan rekomendasi/rencana aksi penguatan adaptasi perubahan iklim dari forum pemuda dan pelajar Bojonegoro peduli iklim kepada instansi pemerintah,” pungkasnya. [lus/kun]






