Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 80 SMA Negeri dan Swasta di Jatim mendapatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik 2024. Dana ini diprioritaskan untuk pembangunan laboratorium, sarana dan prasarana, serta rehab gedung sekolah.
Kadindik Jatim Aries Agung Paewai meminta agar pengelolaan dana dilakukan secara bijak sesuai prosedur dalam pelaksanaannya. Sebab, DAK Fisik berasal dari dana APBN, sehingga riskan lantaran bersifat swakelola.
“Kita lakukan sosialisasi dan bimtek agar tidak salah prosedur dalam pelaksanaan. Saya juga tekankan pada satuan pendidikan untuk menjaga integritas. Karena DAK Fisik tidak main-main, dikelola mereka dan sifatnya swakelola,” ujar Aries, Rabu (26/6/2024).
Aries tak ingin ada persoalan yang muncul di luar regulasi. Dirinya berharap tidak ada kesalahan prosedur, mengingat ada satuan pendidikan yang mendapat DAK Fisik Rp 800 juta bahkan Rp 3 miliar.
“Jangan sampai ada salah prosedur. Ini sangat rentan terhadap proses yang dilakukan kalau tidak betul-betul sesuai dengan perencanaan yang disusun termasuk monitoring dan evaluasinya,” pesannya.
Sejauh ini, lanjut Aries, ada sejumlah laporan masuk, di mana satuan pendidikan penerima DAK tidak menjalankan pembangunan dengan baik bahkan tidak berjalan. Tentu saja, hal itu akan berdampak pada kualitas pembelajaran.
“Jika berproses tidak benar maka proses pembelajaran pun tidak benar. Sebaliknya, jika diniatkan untuk peningkatan mutu, berjalan sesuai SOP dan bertanggungjawab, ini akan bisa kita capai,” tegasnya.
Melalui Bimtek dan Sosialisasi DAK Fisik yang digelar, harapannya sekolah dapat mahami kebijakan pengelolaan DAK Fisik SMA tahun 2024 dan dapat melaksanakan DAK Fisik serta tertib administrasi sesuai aturan yang berlaku.
Adapun 80 lembaga penerima DAK Fisik tahun 2024 ini terdiridari 70 lembaga SMA Negeri dan 10 SMA Swasta. Mereka diharapkan dapat mengelola dengan bijak dan melakukan monitoring anggaran dengan baik. [ipl/suf]






