Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 180 siswa SMK di Jatim mengikuti program inkubator yang diselenggarakan oleh Dindik Jatim. Selama enam hari, skill mereka diasah sesuai dengan bidang keterampilan yang diminati.
“Kita ingin menyambung dengan program Pemprov Jatim bagaimana mengangkat Millenial Job Center (MJC) di Bakorwil. Jadi, bagaimana mereka menyiapkan karya secara mandiri yang bisa dipublikasikan dan dijual,” kata Kadindik Jatim Aries Agung Paewai, Selasa (25/6/2024).
Lewat inkubator ini, Aries berharap ilmu yang diperoleh siswa di sekolah dapat diimplementasikan. Apalagi, dalam program ini mereka didampingi secara langsung oleh para profesional di bidangnya.
“Kalau mereka dapat teori di sekolah, maka di tempat ini mereka mendapat teori dan praktiknya. Kalau di sekolah dapat praktiknya, di sini mendapat implementasinya. Nah, itu yang kita sambungkan,” urai Aries.
Dengan begitu, lanjut dia, para siswa yang mengikuti program inkubator ini, nantinya diharapkan dapat menjadi pionir bagi sekolahnya, dan mampu menularkan ilmu yang didapat ke teman sekolahnya.
Program pelatihan ini terbagi dalam kelas reguler dan kelas MJC. Untuk kelas reguler, bidang keterampilan yang diminati antara lain tata kecantikan, tata boga, teknik pendingin dan tata udara (TPTU), teknik pengelasan, teknik pemesinan, dan teknik otomotif/TBSM.
Sementara di kelas MJC, bidang keterampilan yang diminati ada web desain (RPL), desain grafis, motion animasi, fotografi dan videografi.
Usai pelatihan di kelas reguler, para siswa di masing-masing angkatan akan mengikuti uji sertifikasi kerjasama Dindik Jatim dengan Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) Dirjen Vokasi Kemdikbudristek.
“Kita berharap akan ada tingkatan tertentu, jadi mereka tidak berhenti di sini. Mereka harus terus ditingkatkan ilmunya supaya jangan sampai berhenti akhirnya sia-sia dengan ilmu yang mereka peroleh. Sebab, program ini kita libatkan DUDI, dan akademisi,” pungkasnya.
Basuki Rohman, instruktur bidang keterampilan TPTU mengungkapkan bahwa pemberian materi pelatihan untuk 15 siswa kelas reguler disesuaikan dengan Balai Besar Kementerian Tenaga Kerja.
Misalnya, bagaimana menentukan tata letak pemasangan unit AC. Sehingga siswa tidak serta merta melakukan pemasangan di sembarang tempat. Mereka diajarkan untuk memasang unit AC berdasar empat mata angin.
“Kalau aturan diberlakukan, proses layanan umum antara teknisi dan konsumen terjalin dengan baik. Ini hal dasar yang harus dikuasi siswa berkaitan dengan teknisi AC,” kata Staff Ahli Divisi Elektrikal dan Refrigrasi PT ANR itu.
Pembekalan materi ini baru bisa didapatkan siswa selama 2 tahun setengah di sekolah masing-masing. Sementara lewat program inkubator ini, cukup seminggu saja siswa diasah keterampilannya hingga benar-benar memahami materi yang disampaikan. [ipl/but]






