Malang (beritajatim.com) – Program CLS (Critical Learning Scholarship) ke-15 kembali berlangsung di UM (Universitas Negeri Malang). Kali ini, UM menjadi tempat belajar 26 mahasiswa Amerika Serikat (AS). Mereka belajar bahasa dan budaya Indonesia selama dua bulan di UM, sejak 18 Juni hingga 17 Agustus 2024.
Direktur UPT Pusat Studi Bahasa dan Budaya Indonesia UM, Dr. Gatut Susanto, M.M., M.Pd., menjelaskan bahwa terdapat 26 mahasiswa dari AS, 11 diantaranya sudah berada di UM, 15 lainnya masih terkendala visa. Meski begitu, diharapkan kesulitan visa tidak mengganggu motivasi belajar mahasiswa dan hasil belajar bisa tetap maksimal.
“Visa dikelola oleh pemerintah Indonesia, informasinya server imigrasi sedang down sehingga berpengaruh pada visa mahasiswa yang akan ke UM. Saat ini, teman-teman dari kantor pusat urusan internasional sedang mengurus ke Jakarta,” ungkap Gatut saat pembukaan program CLS, Senin (24/6/2024).
26 mahasiswa ditempatkan pada 6 kelas dengan 18 pengajar. Mereka akan ditemani dengan 52 mitra bahasa yang merupakan mahasiswa aktif UM baik jenjang sarjana maupun magister.
“Total 26 peserta hampir sama dengan tahun lalu. Kita berharap program CLS bisa terus berlangsung di UM karena kuotanya per tiga tahun. Tentu selain itu, ada program lain, misalnya ada program dari Thailand dan Vietnam,” ujar dosen BIPA UM ini.
Pihaknya juga berharap meski mahasiswa mengalami kendala visa, tetapi mereka bisa tetap belajar maksimal di UM. Ia juga berharap UM bisa terus mendapat kepercayaan dari American Council.
“Selama 2 bulan kita telah menggaransi bahwa mahasiswa program CLS ini bisa memperoleh pengetahuan terkait bahasa dan budaya Indonesia. Kalau belajar bahasa Indonesia di UM, Anda pasti bisa,” tegasnya.
Sebagai informasi, UM saat ini telah membuka program magister (S2) Pendidikan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Kehadiran mahasiswa dari AS, kata Gatut, berpengaruh positif terhadap keberadaan S2 BIPA UM, hanya saja peserta CLS tidak bisa terlibat langsung karena hanya 2 bulan berada di UM.
Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Data dan Informasi, Pemeringkatan, Hubungan Masyarakat, dan Kerjasama, menyampaikan bahwa lewat program CLS, mahasiswa AS tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi juga budaya. Mereka dapat mengeksplorasi sekitar, tidak hanya di UM, tetapi ada juga di eksternal.
“Dengan begitu, mahasiswa AS juga dapat menggali potensi yang ada di Malang Raya. Program ini juga ikut mempromosikan wisata, bahasa, dan budaya di Indonesia,” ungkap Prof. Ir. Arif Nur Afandi, S.T., M.T., MIAEng, MIEEE, Ph.D.
Pihaknya berharap, dalam jangka panjang program ini terus berjalan dan UM menjadi suatu mitra potensial. Bahkan diharapkan juga UM bisa terus mendapat alokasi dan kepercayaan dari American Council.
Prof Arif Nur menyebut terdapat total yang ikut program CLS ini ada 26 mahasiswa. Namun, ia menyayangkan karena pada tahun 2024 ini masih ada beberapa mahasiswa tertahan karena visanya belum keluar.

“Meski terkendala di sistem atau visa yang macet. program harus tetap jalan, sudah ada 11 orang yang ikut pembelajaran. Sementara itu, 15 orang yang tertahan nantinya akan langsung masuk kelas karena program sudah berjalan” ujar WR 4 UM.
Saat ini, kata Prof Arif, UM sedang menggalakkan internasionalisasi sehingga pihaknya terus memperbanyak mahasiswa dan dosen yang masuk ke UM. Salah satunya dengan masuknya mahasiswa internasional ke UM.
“UM juga terus bergerak ke internasional , kerjasama dengan berbagai negara, tidak hanya Asia. Dengan begitu kita semakin dikenal di dunia internasional. Di samping itu kita meningkatkan kompetensi mahasiswa dan dosen,” ungkapnya.
WR 4 UM berharap UM terus meningkatkan daya saing secara internasional dan terus menjadi rujukan dari berbagai kegiatan internasional. Dengan begitu, reputasi UM juga terus meningkat.
“Kami terus memperluas mitra, tidak hanya dari kalangan akademisi. tetapi juga lembaga kelas internasional. Termasuk lewat program CLS yang sedang berjalan ini,” tutup Prof. Arif Nur Afandi saat diwawancara. [dan/beq]






