Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Malang (Unisma) menjadi tuan rumah seminar fiqh peradaban yang diadakan Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP). Acara bertema ‘Nahdlatul Ulama (NU) Pasca 100 Tahun Turki Usmani: Dunia Islam dan Realitas Geopolitik Global Kontemporer’ ini berlangsung di gedung pascasarjana lantai 7 Unisma pada Sabtu (22/6/2024).
Sejumlah pihak penting hadir secara luring daj daring pada seminar ini. Mulai dari Prof. Dr. Abdurrahman Mas’ud Ketua Umum ADP, narasumber Dr. Peter Carey yang merupakan peneliti. KH. Yahya Cholil Staquf selaku Ketua Umum PBNU, Hj. Khofifah Indar Parawansa, dan Rektor Unisma Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si.
Rektor Unisma menjelaskan bahwa seminar tentang peradaban yang membahas runtuhnya Turki Usmani pada tahun 1924. Artinya, saat ini berada tepat satu abad mundurnya Turki Usmani.
“Dari berbagai referensi yang ada keruntuhan itu karena meninggalkan nilai-nilai Islam dan juga berbagai kebijakan di sana diarahkan semuanya ke Eropa. Spirit islam seakan-akan ditarik bahkan Khilafah Islamiyah itu juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan di dalam politik daulah bani Islamiyah pada saat itu,” ungkap Maskuri.

Menurut Rektor Unisma, saat ini bermunculan terkait dengan Khilafah Islam yang justru mengarah kepada hal yang menciptakan disharmoni di tengah kehidupan masyarakat. Jadi Khilafah Islamiyah di kala itu dengan saat ini sudah mulai bergeser.
“Momentum satu abad jatuhnya Turki Usmani itu yang ini dijadikan sebagai salah satu peluang bagi ADP untuk berpikir yang lebih strategis. Bagaimana kebangkitan Islam itu bisa mulai kita harus didesain sedemikian rupa pada abad ke-2 Nahdlatul Ulama,” ujar Maskuri.
Pada abad kedua ini, NU itu akan memiliki suatu peran strategis dan taktis di dalam membangun bangsa dan negara dalam berbagai macam bidang kehidupan. Terutama dalam bidang politik dalam bidang politik, pertahanan keamanan, ekonomi sosial budaya, pendidikan, dan lain sebagainya itu.
“Maka ADP sesuai dengan pergerakan ini melakukan suatu kajian strategis untuk mempersiapkan bagaimana supaya tidak terjadi seperti runtuhnya Turki Usmani. Negara kita tentunya harus kita jaga dengan baik agar tidak kemasukan paham yang sekiranya justru meruntuhkan bangsa dan negara,” kata Maskuri kepada awak media. (dan/kun)






