Surabaya-(beritajatim.com) – Fakhri Husaini, mantan pelatih Timnas U16 tahun 2019 ini menyebutkan jika penentang naturalisasi adalah musuh federasi tentunya hal ini tentu sangat tidak dimengerti oleh pelatih asal Aceh.
“Seharusnya federasi atau semua aspek lebih memahami bagaimana arti pembinaan usia dini, setelah sepak bola putra yang lebih dari 10 pemain dari naturalisasi kini gilaran sepak bola putri pun akan mengalami hal yang serupa akan menaturalisasikan pemain yang berasal dari keturunan,” kata Fakhri Husaini.
Federasi harusnya lebih melek mata akan perkembangan pembibitan usia dini, dimana para pesepak bola usia dini sudah menghabiskan waktu, tenaga dan uang untuk masuke ke sekolah sepak bola maupun akademi untuk bisa menjadi pemain liga hingga timnas Indonesia.
Namun sayang di tengah jalah dipatahkan dengan kehadiran naturalisasi yang seakan-akan nasib masa depan sepak bola negara ini digantungkan kepada pemain naturalisasi. hal ini yang membuat banyak aspek prihatin.
Seakan tanpa perlu adaya pembinaan, federasi dengan mudahnya mencari pemain naturalisasi tanpa ada kompetisi atau development yang dibersiapkan untuk pesepak bola putri.
Pola seperti ini hampir sama dilakukan untuk pesepak bola putra tanpa adanya pencarian hingga ke bawah atau liga mereka dengan mudahnya untuk mencari pemain naturalisasi seperti saat ini.
Ditambahkan Fahri, ia berbicara fakta ini karena ia bersama beberapa rekan seperjuangannya pernah membentuk dan mencari para pemain dari liga yang digelar oleh swasta meski mereka sebut keberhasilan itu dari turnamen kecil namun mereka juga berjuang dan bermain 2 kali 45 dan mewakili negara setidaknya saat ini jangan menganggap remeh para pemain lokal.






