Ponorogo (beritajatim.com) – Penanganan stunting harus komprehensif, melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari tingkat keluarga hingga pemerintah daerah (Pemda). Hal itulah yang ditekankan oleh Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko dalam pembukaan acara Rembuk Stunting, yang digelar di Hall Hotel Gajah Mada.
Rembuk Stunting dihadiri oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompinda), camat, kepala desa, serta organisasi masyarakat keagamaan di Ponorogo. Orang nomor 1 di bumi reog itu menyebut bahwa kolaborasi atau kerjasama dari semua pihak, menjadi salah satu kunci pencegahan terjadinya bayi stunting.
Bupati Sugiri mengatakan bahwa untuk meningkatkan generasi penerus bangsa, salah satu yang bisa dilakukan di masa sekarang, yakni dengan penanganan stunting. Bagaimana pemda berkolaborasi dengan semua pihak, bisa mengatasi kasus stunting yang terjadi, khususnya di wilayah Ponorogo.
“Menyelamatkan kualitas generasi penerus itu, dimulai dari yang terdini mungkin. Yakni dengan bagaimana menangani kasus stunting,” kata Sugiri Sancoko, Senin (27/05/2024).
Menurut Kang Giri sapaan karib Bupati Sugiri Sancoko mengatakan bahwa stunting dapat dicegah, jika setiap calon orang tua memiliki pengetahuan yang baik mengenai kesehatan. Salah satu langkah penting adalah menghindari pernikahan di usia dini. Selain itu, orang tua juga harus bisa untuk memastikan pemenuhan gizi seimbang selama proses kehamilan hingga melahirkan. Potensi anak menjadi stunting lebih besar, tak kala rahim yang belum siap karena dipaksakan imbas pernikahan dini, serta pola makan yang kurang sehat dan kurang gizi.
“Ketika rahim belum siap untuk mengandung karena pernikahan dini, ditambah dengan pola hidup yang kurang sehat serta kurangnya gizi, maka potensi anak menjadi stunting akan lebih besar,” katanya.
Untuk itu, Bupati Sugiri menegaskan lagi bahwa untuk mengerdilkan kasus stunting se-kecil-kecilnya di Ponorogo, tentu perlu kerja yang komprehensif. Dengan melibatkan semua pihak. Dia menekankan pentingnya alokasi anggaran desa untuk mengatasi stunting dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Ia tidak ingin anggaran yang seharusnya digunakan untuk penanganan stunting, malah dialihkan untuk kegiatan lain yang tidak tepat sasaran.
“Anggaran untuk stunting, tetapi kegiatannya study banding ke daerah lain. Buat apa itu, malah uangnya habis untuk jalan-jalan. Jika sudah dianggarkan, makanya kegiatan harus langsung tepat sasaran. Dan itu menjadi tugas dari kades atau lurah,” katanya.
Bupati Sugiri menargetkan angka stunting di Ponorogo tahun ini turun menjadi 4 persen, dari yang saat ini berada di angka 9,3 persen. Ia berharap penurunan ini akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Ponorogo. Dengan upaya-upaya ini, Pemkab Ponorogo berharap dapat menurunkan angka stunting secara signifikan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Bumi Reyog.
“Ayo semua bergerak mengatasi stunting dari berbagai perspektif. Mulai dari unsur maupun dari berbagai lini kehidupan, yakni dengan bersama-sama menangani stunting,” pungkas Bupati Sugiri. (adv/end/ian)






