Malang (beritajatim.com) – Dekan Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Prof. Dr. Sudirman, M.A., berharap mahasiswanya sadar untuk ikut berpolitik secara islami. Menurutnya, berpolitik itu perlu diimbangi dengan dasar Al-Quran, hadist, dan fatwa ulama’.
“HTN ini kan istilah lainnya siyasah atau politik islam. Mahasiswa HTN selain mendapat pengetahuan secara umum , mereka juga harus bisa melaksanakan politik yang adil dan islami,” ucap Sudirman di sela acara kuliah tamu tentang hak politik pada Rabu (22/5/2024).
Berpolitik secara islam secara keseluruhan sama dengan berpolitik pada umumnya. Namun, kata Sudirman, nilai keislaman ini memiliki dasar Al-Quran dan Hadits seperti untuk berbuat adil , tegas, dan semua sama di mata hukum perlu dikuatkan.
“Secara umum, hampir sama dengan hukum biasanya, hanya saja di dalam islam itu ada nilai ruhaniahnya , mereka punya dasar islam dan keagamaan yang kuat. Itulah yang kami harapkan dimiliki mahasiswa HTN UIN Malang,” ucapnya.
Dekan Fakultas Syariah UIN Malang itu menyebut, terkadang politik dapat dengan mudah goyah hati seseorang. Terutama situasi tertentu memaksa pada hal yang tidak baik.
“Dengan islam, kita bisa menghindari suap, serangan fajar, diantaranya itu lah praktik politik praktis yang sering kita dengar. Harapannya, mereka tetap berada dalam koridor dan memperjuangkan nilai-nilai keislaman,” lanjut Sudirman.
Untuk itu, prodi HTN UIN Malang mengintegrasikan konsep islam dalam pembelajaran tentang hukum tata negara. Meski begitu, dalam implementasi di kelas, Sudirman menyebut tetap lebih dominan pada nilai hukum.
“Kami punya 5 prodi, 2 diantaranya berbasi pada agama, Al Quran dan Hadist, yang 3 ini hukum semua, hukum keluarga, hukum tata negara, hukum ekonomi syariah. Paling banyak muatan umumnya ya hukum tata negara, meski juga ada muatan islamnya,” jelasnya.
Kurikulum HTN di UIN Malang sejatinya tidak jauh berbeda dengan pembelajaran ilmu hukum di perguruan tinggi negeri. Namun, di sisi lain ada nuansa keislaman kuat dengan mahasiswa mengenal baca kitab. Misalnya kitab tentang sulthoniyah dan cara menjadi pemimpin yang islami.
“Mahasiswa kami integratif, umumnya dapat agamanya kuat. Jadi mereka tidak hanya menggunakan hukum saja tapi juga bisa menggunakan hadist Al Quran maupun fatwa sehingga lengkaplah harapannya,” tutup Sudirman. [dan/but]






