Malang (beritajatim.com) – Penelitian Laboratorium Sistem Cerdas, Fakultas Ilmu Komputer (Filkom), Universitas Brawijaya (UB) tengah mengembangkan sistem berbasis kecerdasan buatan generatif (Generative AI). Artificial Intelligence (AI) ini memungkinkan pengguna untuk menghasilkan desain batik sesuai dengan keinginan mereka.
Penelitian dipimpin Dr. Eng. Novanto Yudistira, S.Kom., M.Sc. ini juga melibatkan Dr. Eng. Irawati Nurmala Sari, S.Kom., M.Sc. dari Filkom. Keduanya dibantu beberapa anggota dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UB.
Salah satu mahasiswa Filkom yang terlibat dalam pengerjaan proyek ini adalah Octadion, dan Daffa Izzuddin. Mereka menjadikan proyek pengembangan generative AI sebagai topik skripsi.
Novanto Yudistira menjelaskan, penelitiannya menggunakan teknologi “prompt to batik,”. Pengguna bisa memberikan deskripsi tekstual soal corak batik yang diinginkan. AI generatif bisa secara otomatis menghasilkan desain batik yang sesuai dengan deskripsi tersebut.
“Dimulai dengan proses pengumpulan pada tahun 2022. Proses riset generative AI dilaksanakan pada tahun 2023. Tim peneliti mengumpulkan dan menganalisis dataset yang berisi berbagai motif batik tradisional dari seluruh nusantara,” ucapnya kepada media, Selasa (21/5/2024).
Model AI generatif dilatih memakai dataset untuk mengenali dan memahami pola, warna, dan elemen khas dari berbagai corak batik tradisional. Proses pelatihan model dilakukan di server UB Tesla A100 AI Center, yang menyediakan kapasitas komputasi tinggi yang diperlukan untuk melatih model AI generatif.
Sementara itu, server Filkom UB digunakan untuk proses inferensi. Pengguna dapat memberikan prompt dan menerima desain batik yang dihasilkan oleh sistem. Pengguna dapat memberikan prompt yang spesifik, seperti batik dengan motif parang berwarna biru dengan sentuhan modern.
“Sistem AI generatif akan menghasilkan desain yang sesuai dengan deskripsi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini mampu menghasilkan desain batik yang tidak hanya mempertahankan keaslian dan keindahan motif tradisional nusantara, tetapi juga dapat disesuaikan dengan preferensi dan kreativitas individu pengguna,” ungkap Ketua Tim penelitian.

Yudis menambahkan, teknologi ini berpotensi untuk memperkaya dan melestarikan budaya batik Indonesia melalui inovasi digital. Pengembangan ini juga digunakan sebagai alat yang berguna bagi desainer dan industri batik untuk menciptakan kreasi baru dengan lebih efisien dan terarah.
Penggunaan AI generatif dalam penelitian ini menunjukkan kemampuan yang tinggi dalam menghasilkan variasi desain yang unik dan sesuai permintaan. Hal itu dapat menjadikan proses pembuatan batik lebih dinamis dan adaptif terhadap tren dan kebutuhan pasar.
“Selain itu, teknologi ini membuka peluang bagi eksplorasi kreatif yang lebih luas dalam seni batik, memungkinkan penciptaan motif-motif baru yang tetap berakar pada tradisi namun mampu menjawab tuntutan estetika modern,” ungkapn Yudis menutup. [dan/beq]






