Surabaya (beritajatim.com) – Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mendapatkan penghargaan sebagai kepala daerah pelestari budaya Reog dalam gelaran Beritajatim Award 2024. Penyerahan penghargaan Beritajatim Award itu, juga sebagai penanda umur Beritajatim yang sudah 18 tahun. Dengan tagline Unlimited Make Everything Possible itu, pemberian penghargaan dilakukan pada hari Kamis (02/05) di Ballroom lantai 16 Hotel Whiz Luxe Spazio Tower.
“Terimakasih atas penghargaan yang diberikan oleh Beritajatim.com. Atas kepercayaannya sebagai kepala daerah pelestari budaya Reog,” kata Bupati Sugiri Sancoko, usai menerima penghargaan, Kamis (02/05/2024).
Reog Ponorogo, ke depan kata Bupati Sugiri akan terus diulik untuk dijadikan sebagai pemikat wisata di wilayah Mataraman. Memperkuat karakter dari budaya reog itu, sehingga semakin bagus dan enak untuk ditonton.
“Karakter bagus, ditonton enak, dan nilai substansinya juga kena,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Bupati Sugiri Sancoko juga mengucapkan selama ulang tahun untuk Beritajatim yang ke 18 tahun. Dia mengaku selalu update terkait dengan perkembangan media online yang lahir pada tanggal 1 April 2006 tersebut. Ia melihat orang-orang di dalam beritajatim merupakan jurnalis yang mempunyai integritas tinggi. Tak heran, jika beritajatim sudah menapaki umur yang ke 18 tahun.
“Terimakasih, selama ulang tahun ke 18 tahun untuk Beritajatim. Saya selalu update, siapa-siapa saja orang yang di dalamnya. Orang-orang yang mempunyai integritas tinggi,” katanya.
Untuk diketahui, dalam era kepemimpinannya, Bupati Sugiri terus berjuang supaya reog diakui oleh dunia internasional. Pada tahun 2022 lalu, Bupati Sugiri mendaftarkan Reog Ponorogo sebagai warisan budaya takbenda (Intangible Cultural Heritage) ke UNESCO. Namun, usaha itu masih belum berhasil. Kala itu, Reog Ponorogo kalah dari Jamu, sebagai perwakilan dari Indonesia yang didaftarkan ke UNESCO.
Tak patah arang, Bupati Ponorogo kembali mendaftarkannya lagi pada tahun 2023. Kali ini, nampaknya asa itu, tidak mendapatkan rintangan lagi. Tahun 2024 ini, Reog Ponorogo akan menjalani sidang Enkripsi ICH UNESCO di Paraguay. Nantinya, jika tidak aral yang melintang, Reog Ponorogo akan dinobatkan menjadi warisan budaya takbenda UNESCO.
Selain itu, dalam binaan sang bupati, Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) menjadi langganan dan selalu masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN). Sebuah kalender event pariwisata bergengsi yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata, Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
Berbagai strategi pun dilakukan Bupati Sugiri Sancoko untuk melestarikan Reog Ponorogo. Salah satunya dengan melakukan kaderisasi seniman, yang diupayakan dilakukan sedini mungkin. Yakni dengan membuat reog wayang golek, dengan sasaran untuk anak-anak PAUD maupun TK.
Untuk anak usia SD, diadakan Festival Reog Anak (FRA). Event ini rencananya akan dilaksanakan jelang peringatan hari anak nasional. Ada Festival Reog Remaja (FRR) untuk peserta usia SMP. Kemudian, untuk usia anak SMA disatukan dengan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) untuk peserta profesional. Kedua event ini, diselenggarakan pada saat perayaan Grebeg Suro setiap tahunnya.
Untuk menunjukkan lagi kepada dunia, bahwa Reog Ponorogo benar-benar berasal dari Ponorogo Jawa Timur Indonesia, dan tidak akan diklaim sebagai budaya negara lain, Bupati Sugiri Sancoko saat ini sedang membangun Monumen Reog. Di mana monumen Reog Ponorogo ini, merupakan proyek monumental dan bernilai sejarah tinggi. Bahkan tinggi monumen Reog Ponorogo ini, nantinya 126 meter, digadang-gadang lebih tinggi dari patung GWK di Bali. [end/but]






