Bojonegoro (beritajatim.com) – PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 memberikan sekolah lapangan khusus pertanian berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan kepada sejumlah anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) yang berada di sekitar area Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) di Kabupaten Bojonegoro.
PEPC menggandeng lembaga swadaya masyarakat untuk memberikan pelatihan secara kontinyu kepada sejumlah petani di sekitar area produksi. Kali ini, kegiatan digelar di kawasan Petak 38 Perhutani, Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (25/4/2024).
“Para petani yang berdomisili di desa sekitar wilayah operasi JTB ini mendapatkan pelatihan tentang tata cara bercocok tanam secara efektif dan efisien, sehingga mereka bisa mendapatkan hasil secara optimal dengan biaya minimal,” ujar Manager Comm Relations & CID PEPC Regional Indonesia Timur Rahmat Drajat.
Rahmat menerangkan, kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Masyarakat (PPM) PEPC bersama SKK Migas yang merupakan regulator industri hulu migas. Pihaknya bersama SKK Migas memberikan atensi kepada masyarakat sekitar supaya dapat mengembangkan pertaniannya sehingga memperoleh hasil yang maksimal.
“Kami giat dalam pengembangan masyarakat tani sekitar wilayah operasi supaya mereka dapat meningkatkan hasil pertaniannya. Untuk itu kegiatan ini didesain secara proaktif agar para petani memiliki pengetahuan baik secara teori dan praktek bersama mitra pendamping berpengalaman,” terangnya.
Salah satu peserta kursus dari anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Rimba Tani Desa Bandungrejo, Lamidi mengaku dengan mengikuti kegiatan tersebut semakin membuka wawasannya dalam hal bertani. Apalagi, sejauh ini pertanian yang dijalankannya masih secara konvensional.
“Pengalaman dari pelatihan ini saya gunakan mulai musim tanam tahun ini dan hasilnya terlihat berbeda, menjadi lebih baik. Terlebih di sini kami bisa mengurangi ketergantungan dalam penggunaan bahan kimia,” tuturnya.
Hal lain juga disampaikan anggota KTH penggarap lahan sekitar JTB, Purwiwin. Menurutnya, metode yang diajarkan dalam kursus ini, selain memudahkan pengelolaan dalam bertani juga mengirit penggunaan pupuk. Salah satu yang diajarkan adalah tentang pengoptimalan kompos dan pengelolaan tanah selama proses penanaman.
“Apalagi pupuk semakin mahal dan semakin langka, jadi kegiatan ini tepat buat para petani. Terlebih ketersediaan bahan pembuatan kompos ada di sekitar kita,” urainya.
Kegiatan ini diawali dengan cara membuat kompos secara benar supaya dapat diaplikasikan pada tanaman untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Kemudian dilanjutkan dengan pengolahan tanah sebelum ditanam dan pemilihan jenis bibit yang akan ditanam. [lus/ian]






