Jombang (beritajatim.com) – Demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Jombang sudah merenggut 12 nyawa selama tiga bulan terakhir ini. Korban yang mayotitas anak-anak ini meninggal saat menjalani perawatan di RSUD Jombang.
Rinciannya, sembilan anak meninggal pada Februari, kemudian satu anak pada Maret, serta dua anak pada bulan April. Dua terakhir yang meninggal pada April adalah M, usia tiga tahun asal Desa Jombok, Kecamatan Kesamben dan alita berinisial I dari Desa Kepuhrejo, Kecamatan Kudu.
“Mulai Februari sampai April ini sudah ada 12 anak meninggal akibat DBD. Saat dibawa ke RSUD Jombang kondisi mereka lemas karena Dengue Shock Syndrome (DSS),” ujar Direktur RSUD Jombang Dr. dr Ma’murotus Sa’diyah M Kes, Sabtu (20/4/2024).
Dokter Eyik, sapaan akrab Dr. dr Ma’murotus Sa’diyah M Kes, berharap jumlah korban akibat DBD tersebut tidak bertambah lagi. Pasalnya, hingga saat ini RSUD Jombang masih merawat 14 pasien DBD.
Dari jumlah itu 3 pasien kondisinya kritis, sehingga dirawat di ICU (Intensive Care Unit). Sedangkan lainnya mulai membaik. “Karena tiga pasien yang di ICU ini dikirim oleh Faskes (fasilitas kesehatan) dalam kondisi DSS,” ujarnya.
Sebagai upaya meningkatkan layanan pasien DBD terus dilakukan oleh RSUD Jombang. Oleh sebab itu, rumah sakit pelat merah ini menambah layanan. Di antaranya 20 tempat tidur untuk anak-anak, perawatnya juga terdapat sukarelawan.
“Semua pasien DBD yang dirawat di RSUD Jombang semuanya anak-anak. Rinciannya, tiga anak masih di ICU, sedangkan selebihnya mulai membaik. Karena tiga anak tersebut dibawa ke rumah sakit sudah dalam kondisi syok,” pungkasnya. [suf]






