Surabaya (beritajatim.com) – Post holiday blues atau perasaan sedih, cemas, dan kelelahan kerap dialami seseorang pasca berakhirnya libur panjang. Termasuk libur panjang perayaan Idul Fitri 2024.
Penyebab dari post holiday blues sangat bervariasi. Salah satunya karena perpisahan dengan keluarga atau teman dekat usai momen kebersamaan selama liburan. Lalu, bagaimana agar kita dapat kembali pada rutinitas normal ?
Dosen Keperawatan Jiwa Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya Uswatun Hasanah menjelaskan bahwa tanda dan gejala dari post holiday blues dapat berbeda-beda bagi setiap individu.
Meski begitu, beberapa ciri umum yang kerap muncul di antaranya perasaan sedih atau muram, kurangnya motivasi atau semangat, kesulitan berkonsentrasi, dan perubahan dalam pola tidur atau nafsu makan.
“Beberapa orang juga dapat mengalami gejala fisik seperti kelelahan atau sakit kepala akibat stres yang dialami,” jelas Uswatun, Jumat (19/4/2024).
Menurut Uswatun, untuk mengatasi masalah post holiday blues pasca libur panjang Idul Fitri, ada sejumlah strategi yang dapat diterapkan.
Pertama, dalam mengatasi post holiday blues adalah dengan menerima perasaan yang dialami secara terbuka. Sadari bahwa perasaan sedih atau cemas setelah liburan adalah normal dan dapat dialami oleh siapa pun.
Kedua, tetap aktif dan mulai menyusun jadwal kegiatan yang produktif. Mulailah kembali rutinitas harian dengan menyusun kegiatan yang membuat diri semakin produktif namun tetap bermanfaat dan menyenangkan baik dalam lingkungan kerja maupun di luar kantor.
“Aktivitas fisik seperti olahraga ringan atau jalan-jalan dapat menjadi alternatif yang efektif membantu mengalihkan perasaan sedih dan meningkatkan mood,” imbuh Uswatun.
Ketiga, lakukan reminiscence. Reminisens adalah salah satu bentuk psikoterapi di mana individu mengingat momen bahagia atau menyenangkan yang pernah dilalui sebelumnya.
Mengingat kembali momen indah yang membahagiakan selama liburan dapat mengurangi stress. Reminisens bisa dilakukan sendiri atau berkelompok dengan anggota keluarga maupun peer group.
“Sharing cerita-cerita menarik dan pengalaman positif yang dilalui selama liburan dengan orang-orang terdekat dapat membantu memperpanjang kebahagiaan tersebut dan mengurangi perasaan sedih,” katanya.
Keempat, tetap terhubung. Artinya tetap terhubung dengan teman atau keluarga yang berada jauh dari kita dapat mengurangi rasa sedih, dan perasaan dekat satu sama lain akan terbentuk, meski jarak memisahkan.
Kelima, atur rencana masa depan. Tetapkan rencana untuk liburan berikutnya atau jadwalkan aktivitas menyenangkan lainnya dengan baik, buat diri menantikan moment liburan yang telah direncanakan.
Keenam, fokus pada diri sendiri. Luangkan waktu untuk merawat diri sendiri dengan melakukan aktivitas yang menenangkan seperti meditasi, yoga, atau membaca buku.
“Merawat diri sendiri secara fisik dan emosional dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan,” ungkap Uswatun.
Ia menambahkan, penting untuk ditanamkan pada diri bahwa hal ini merupakan gejala sementara dan perasaan ini akan hilang dengan sendirinya seiring waktu berlalu, dan saat ini banyak individu lain juga menghadapinya.
“Jika merasa kesulitan mengatasi perasaan sedih atau gejalanya menetap lebih dari 2 minggu atau bahkan 1 bulan, disarankan agar segera mencari bantuan dari profesional kesehatan mental,” pungkasnya. [ipl/suf]






