Cibinong (beritajatim.com) – Semangat belajar dan rasa ingin tahu terpancar dari 46 peserta pelatihan vokasional di Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS) Cibinong, Kabupaten Bogor.
Para penyandang disabilitas ini mengikuti pelatihan sesuai minat dan bakat mereka selama tiga bulan.
“Peserta dapat memilih satu dari tujuh pelatihan yang tersedia,” kata Dr. M.O. Royani, Kepala STIS Bogor. Ketujuh program ini – menjahit, desain grafis, logam, komputer, contact center, otomotif, dan elektro – merupakan hasil pengembangan STIS. Saat pertama kali diluncurkan pada tahun 1998, hanya empat program yang ditawarkan: menjahit, percetakan (kini desain grafis), logam, dan komputer. “Pengembangan ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” jelas Royani.
Peserta pelatihan berasal dari berbagai daerah di wilayah kerja STIS Cibinong Bogor, termasuk Bogor, Cianjur, dan bahkan Lampung. Perekrutan dilakukan secara terbuka. Pada tahap pertama, STIS Bogor menginformasikan program pelatihan melalui media sosial, website STIS, dan surat kepada dinas sosial setempat.
Peserta kemudian mendaftar melalui link yang disediakan oleh masing-masing dinas sosial kabupaten/kota. Setelah itu, STIS Bogor melakukan assessment dengan mendatangi calon peserta untuk mengetahui minat, bakat, dan kondisi disabilitas mereka. Tahap terakhir adalah pemanggilan peserta untuk mengikuti pelatihan di STIS Bogor.
“Tidak ada kriteria khusus bagi peserta, tetapi saat ini kami lebih memprioritaskan penyandang disabilitas, baik fisik, rungu, wicara, dan sebagainya,” kata Royani.
Pelatihan berlangsung selama tiga bulan. Gelombang kali ini dimulai dari 8 Maret hingga 7 Juni 2024. Selama pelatihan, peserta tinggal di STIS dan mendapatkan semua kebutuhan, termasuk makan dan tempat tinggal. Biaya transportasi dari tempat tinggal menuju STIS Bogor juga ditanggung oleh Kemensos.
STIS menggandeng tenaga profesional bersertifikat dan ASN pensiun yang memiliki keahlian khusus sebagai instruktur. Untuk vokasional contact center, STIS bekerja sama dengan Indonesia Contact Center Association (ICCA).
Pelatihan vokasional ini membekali para penyandang disabilitas dengan keterampilan berharga untuk hidup mereka. Banyak lulusan pelatihan yang kemudian bekerja di instansi pemerintah dan swasta, ataupun menjadi pengusaha.
Resti Aprilaini (25), penyandang disabilitas fisik dari Cikarang, Kabupaten Karawang, mengikuti pelatihan vokasional contact center karena ingin bekerja di perusahaan. “Saya aslinya pendiam. Di sini, saya dilatih untuk mahir berbicara. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meraih kesuksesan,” ujarnya penuh semangat.
Muhamad Rio (25), penyandang disabilitas netra low vision asal Brebes, Jawa Tengah, mengikuti pelatihan vokasional komputer. Rio mengakui ada kendala penglihatan, tetapi dengan tekad dan semangatnya yang tinggi, ia yakin bisa mengatasi berbagai kendala dan meraih kesuksesan.
“Di rumah sudah ada usaha printer dan aksesoris handphone. Semoga setelah mengikuti pelatihan ini, kemampuan komputer saya semakin bertambah sehingga bisa diterima bekerja di perusahaan. Kalaupun tidak, usaha yang sudah dijalani di rumah bisa semakin berkembang,” ujarnya penuh optimisme. (ted)






