Tulungagung (beritajatim.com) – Perajin kaligrafi di Kabupaten Tulungagung ketiban berkah Bulan Suci Ramadhan 1445 Hijriah. Seperti yang dirasakan oleh Komarudin, warga Desa Sumberejo Kulon, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Kediri.
Komarudin mengaku, omzet penjualan meningkat hingga 150 persen di banding hari biasa. Jika hari biasanya hanya mengerjakan 4-5 kaligrafi berukuran besar, bersama sang istri, ia mendapatkan 10 pemesanan di bulan Ramadhan ini.
“Usahanya sejak tahun 1994 lalu. Awalnya dapat pesanan menulis kaligrafi untuk keperluan kelahiran anak hingga menyambut haji kemudian meluas,” katanya, Rabu (27/3/2024).
Atas permintaan pasar, Komarudin lalu mulai menggarap kaligrafi dengan model bordir dan silikon. Dia menggunakan khot Tsuluts dan Naskhi dalam mengerjakan kerajinan kaligrafi ini.
Diakuinya, butuh ketelatenan dan ketekunan untuk mengerjakan pesanan kaligrafi ini. Terutama yang berukuran besar seperti membuat replika kiswah ka’bah. Proses pengerjaan dilakukan dengan beberapa tahap, dimulai dengan pembuatan sketsa pada kain beludru menggunakan kapur tulis.
Selanjutnya, secara hati-hati lem silikon dilelehkan dan dilukiskan pada kain beludru sesuai sketsa. Lelehan lem yang mengeras dan membentuk kaligrafi kemudian dilakukan pewarnaan menggunakan kertas prada berwarna emas maupun silver. Kaligrafi model silikon ini banyak diminati karena harganya relatif lebih terjangkau daripada berbahan bordir.
“Karya kaligrafi saya dijual mulai harga Rp 75 juta sampai jutaan rupiah tergantung ukuran dan bahan,” tambahnya.
Dia menambahkan, kaligrafi yang paling banyak diminati adalah tulisan ayat kursi dan ayat seribu dinar.
“Kalau untuk ayat 1.000 dinar, ayat kursi itu harganya sekitar Rp750 ribu sampai Rp800 ribu. Itu untuk silikon. Kaligrafi bordir lebih mahal lagi, contohnya kiswah bordir, antara Rp10 juta sampai Rp48 juta, karena pengerjaannya lebih rumit,” pungkasnya. [nm/but]






