Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Tabligh Akbar Semarak Ramadhan pada beberapa hari lalu dengan menghadirkan Dr. H Fahruddin Faiz, M.Ag. Ahli filsafat dan dosen Fakultas Ushuludin serta Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu berbicara soal level tertinggi sebagai manusia.
Menurut Fahruddin, hidup manusia itu dikendalikan oleh dua hal, yang pertama adalah nafsu dan kedua adalah pikiran. Ketika nafsu dan pikiran tidak dapat ditahan, maka kehidupan seseorang akan hancur.
“Ada tiga penggolongan kategori manusia dalam menjalani kehidupan. Tiga golongan tersebut dibagi menjadi nafsu dari perut ke bawah, nafsu dari dada hingga leher, dan nafsu pada akal,” ucapnya saat kajian bertema ‘Konsep Beramal dan Berjuang untuk Perdamaian dan Kesejahteraan Umat’ pada 19 Maret lalu.
Pertama, nafsu bagian perut ke bawah. Ciri orang seperti ini biasa mencari senang dan butu enak saja. Orang jenis ini hanya mengejar kebutuhan perut ke bawah saja, tidak lebih. “Orang dengan tipe pertama hanya mengejar kesenangan dan kenyamanan. Jika mereka tidak bisa mengontrol hal it maka yang ada hanya rasa lelahnya,” ucap Filsuf dari Yogyakarta itu.
Golongan kedua, kategori manusia yang bernafsu di bagian dada sampai leher. Menurut Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumuddin, golongan ini biasanya memiliki ambisi yang kuat untuk mengejar kuasa atau cita-cita.
Kekurangan golongan kedua biasanya selalu ingin unggul dari orang lain. Mereka akan mengandalkan ambisi untuk mencapai kedudukan puncak dengan menghalalkan berbagai cara.
Adapun golongan ketiga yaitu nafsu yang dipengaruhi akal. Menurut Fahrudin, akal menjadi bagian paling canggih yang diciptakan Allah SWT. Akal punya kendali untuk memutuskan benar atau salah.
“Akal itu dapat menjadi kendaraan, jika kendaraan tersebut digunakan untuk hal positif maka akan menjadi positif. Berlaku juga sebaliknya, jika kendaraan tersebut digunakan untuk hal negatif maka kendaraan tersebut menjadi negatif juga,” lanjutnya.
Level tertinggi menjadi seorang manusia adalah saat memiliki cinta tanpa syarat. Maksudnya, ketika mencintai seseorang, maka tidak akan membiarkan perilaku buruk menimpa orang yang dicintai. Oleh sebab itu, penting agar manusia mengontrol nafsu yang ada dalam dirinya.
Ada beberapa cara yang diajarkan Imam Ghozali untuk mengontrol setiap nafsu. Diantaranya, dengan iffah atau menjaga kehormatan untuk menjaga nafsu perut ke bawah, syaja’ah atau tidak ikut-ikutan untuk menjaga nafsu dada hingga leher, dan hikmah alias memberi makna untuk setiap hal yang dilakukan menjaga nafsu pada akal.
Terakhir, Fahrudin memberi arahan pada jamaah terkait tiga kunci utama menjadi manusia yang punya kesehatan berpikir demi perdamaian dan kesejahteraan sosial. Ketiganya yaitu, dengan dengan jihad, mujahadah, dan ijtihad.
“Jihad yaitu dengan kerja keras, ijtihad dengan kerja cerdas, dan mujahadah yaitu bermunajat kepada Allah SWT. Ketika ketiga kunci itu diamalkan, maka Insya Allah akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi dirinya dan orang di sekitar,” katanya menutup. (dan/kun)






