Ponorogo (beritajatim.com) – Bulan Maret 2024 ini, merupakan puncak panen padi untuk Ponorogo bagian selatan. Yakni meliputi Kecamatan Slahung, Mlarak, Sambit dan Jetis. Dari panen raya untuk Ponorogo selatan itu, ditaksir menghasilkan sekitar 86.660 ton gabah. Jumlah tersebut dihasilkan dari lahan seluas 12. 380 hektare. Artinya, dalam lahan seluas 1 hektare menghasilkan rata-rata 6,5 hingga 7 ton gabah.
“Bulan Maret ini, puncak panen untuk Ponorogo bagian selatan. Rata-rata panen di Ponorogo sekitar 6,5 hingga 7 ton gabah,” kata Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo, Tri Budi Widodo, Selasa (19/03/2024).
Sebulan kemudian, yakni pada bulan April, kata Budi baru panen raya untuk Ponorogo bagian utara dan barat. Yakni meliputi Kecamatan Babadan, Jenangan, Kauman, Sukorejo, Badegan, dan Sampung. Gabah basah yang dihasilkan bakal lebih banyak lagi dari pada perkiraan perolehan dari panen raya Ponorogo selatan. Luas lahan kawasan Ponorogo utara dan barat ini, sekitar 15 ribu hektare. Sehingga gabah basah yang dihasilkan ditaksir mencapai 105 ribu ton.
Diakui Budi bahwa memang masa panen di bumi reog tidak sama antar wilayah. Untuk panen bulan April nanti, merupakan periode tanam yang dilakukan pada bulan Desember tahun lalu hingga bulan Januari 2024.
“Memang masa panen antar wilayah di Ponorogo tidak sama. Bulan ini di Ponorogo selatan, nanti sebulan lagi mulai panen di daerah Ponorogo bagian utara dan barat,” katanya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun beritajatim.com, harga gabah basah langsung dari petani, saat ini dihargai Rp6.700 per kilogramnya. Sementara untuk gabah kering giling, diharga Rp8.000 per kilogram. Budi menyebutkan bahwa masa panen yang sedang berlangsung ini, bisa menekan harga beras di pasaran. Sebab, selain di Ponorogo, puncak panen juga ikuti di beberapa wilayah tetangga kabupaten, seperti di Madiun, Magetan dan Ngawi.
Adanya waduk dan program listrik masuk sawah, membuat petani tak lagi terkendala air irigasi. Mereka bisa memanfaatkan air waduk dan pompa air sibel yang menggunakan listrik. Sehingga ada wilayah-wilayah di Ponorogo yang panen 3 hingga 4 kali dalam setahun. Apalagi ditunjang dengan adanya varietas padi yang bisa panen kurang dari 90 hari.
“Masalah air irigasi, ada petani yang sudah memanfaatkan air waduk Bendo, ada pula petani yang memakai pompa air sibel, sebab saat ini sudah ada program listrik masuk sawah,” pungkasnya. (end/kun)






