Rekapitulasi suara hasil Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2024 Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur (Jatim) untuk kursi DPRD provinsi telah ditetapkan KPU. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) muncul sebagai pemenang. Perolehannya melebihi partai-partai lain. Ketika dikonversi ke kursi DPRD Jatim, suara PKB setara dengan 27 kursi.
Posisi kedua ditempati Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan 21 kursi. Jumlah kursi yang diraih partai berlambang kepala banteng ini setara dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra): 21 kursi. Namun demikian, total jumlah suara PDIP lebih tinggi dibanding Partai Gerindra.
Selanjutnya, Partai Golkar dengan 15 kursi, Partai Demokrat dengan 11 kursi, Partai NasDem dengan 10 kursi, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan 5 kursi, Partai Amanat Nasional (PAN) dengan 5 kursi, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan 4 kursi, dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan 1 kursi. Total kursi DPRD Jatim sebanyak 120 kursi.
Total jumlah kursi dari empat partai: Partai Demokrat, PAN, Partai Golkar dan Partai Gerindra di DPRD Jatim periode 2024-2029 sebanyak 52 kursi. Jumlah tersebut lebih dari 42 persen jumlah kursi secara keseluruhan di DPRD Jatim.
Dalam relasinya dengan agenda Pemillihan Gubernur (Pilgub) Jatim di bulan November 2024 mendatang, keempat partai di atas telah menjagokan Khofifah Indar Parawansa sebagai Calon Gubernur (Cagub). Partai Demokrat telah memutuskan duet Khofifah-Emil Dardak sebagai kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim di Pilgub nanti. Sedangkan tiga partai lainnya: Gerindra, Golkar, dan PAN secara eksplisit dan legal formal belum memutuskan siapa figur cawagub yang diusung.
Hingga sekarang, Kamis (14/3/2024), baru nama Khofifah yang muncul sebagai bakal kandidat Gubernur Jatim. Belum ada nama lain. Sekalipun sejumlah nama telah disebut dan digadang-gadang berpeluang masuk ke bursa Pilgub Jatim 2024, seperti Menteri Sosial Tri Rismaharini, Mantan Bupati Pamekasan Badrut Tamam, Mantan Bupati Lumajang M Thoriq, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, dan lainnya.
Melihat peta politik terbaru di Jatim dengan merujuk hasil Pileg 2024, hanya PKB yang bisa menyorongkan kandidat gubernur dan wagub Jatim tanpa berkoalisi dengan partai lainnya. PKB sukses mengamankan 27 kursi DPRD Jatim.
Ketentuan regulasi yang ada menyebutkan, partai dan atau gabungan partai dengan total persentase 20 persen kursi di lembaga legislatif provinsi yang berkesempatan mengajukan kandidat gubernur dan wagub secara mandiri. Artinya, minimal satu partai wajib mengantongi 24 kursi untuk bisa mencalonkan gubernur dan wagub tanpa berkolaborasi dengan partai lain.
Besar kemungkinan, dinamika politik regional bakal bergerak dinamis dan meninggi setelah pengumuman hasil Pileg dan Pilpres 2024 disampaikan KPU pada 20 Maret 2024 nanti. Apakah hasil Pilpres 2024 itu diterima tanpa gugatan hukum ke Mahkamah Konstitusi (MK) atau sebaliknya. Agenda pilkada serentak pada bulan November 2024 menjadi ladang garapan elite-elite partai untuk membicarakan dan memutuskan. Utamanya pada aspek figur yang dijagokan dan didukung untuk bertarung di kontestasi politik tingkat regional dan lokal tersebut.
Peluang politik bagi Khofifah untuk bisa masuk bursa dan memenangkan Pilgub Jatim 2024 lebih besar dibanding saat Pilgub Jatim 2018. Satu di antara faktor pendukungnya adalah, Khofifah tampil di bursa Pilgub 2024 sebagai petahana (incumbent). Dia telah memimpin pemerintahan Jatim selama 5 tahun terakhir hingga 13 Februari 2024, dengan segala dinamika yang melingkupi di dalamnya. Pemahaman terhadap peta sosial dan politik Jatim makin komprehensif dan lengkap.
Terlebih jika dikaitkan dengan kontribusi politik yang tak kecil dari Khofifah untuk duet Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (02) di Pilpres 2024. Duet capres dan cawapres yang diusung Partai Golkar, Partai Gerindra, PAN, dan Partai Demokrat ini merengkuh kemenangan sebesar 65,19 persen dari suara sah di Jatim. Ini kemenangan terbesar pasangan 02 dibanding provinsi lain di Pulau Jawa.
Khofifah terjun langsung dan menyatakan secara eksplisit mendukung pasangan 02 pada awal 2024. Ketokohan, pengaruh, dan dominasi politik kepemimpinan Khofifah di basis massa pendukung tradisionalnya: Muslimat NU dan komunitas sosial lainnya di Jatim sangat kokoh dan mengakar.
Hal itu bisa kita lihat dari pergerakan dinamika dukungan politik pasangan 02 di Jatim pada Pilpres 2024. Pada akhir Oktober dan awal November 2023, tingkat elektabilitas politik pasangan 02 di Jatim belum menyentuh angka 50 persen.
Merujuk hasil survei Indikator Politik, pada akhir bulan Oktober dan awal November 2023, pasangan 02 di Jatim tingkat elektabilitasnya sebesar 49,0 persen. Survei Charta Politica dengan 34 persen, survei Poltracking dengan 41,7 persen, dan survei ARCI dengan 40,1 persen.
Baru pada 10 Januari 2024, Khofifah secara resmi menyatakan mendukung pasangan 02. Khofifah mengaku siap menjadi juru kampanye nasional (jurkamnas) Prabowo-Gibran. “Insya Allah saya sudah siap, sesuai janji saya Januari awal sepulang saya umrah. Saya menyampaikan posisi dukungan saya dan saya mendukung paslon 02,” kata Khofifah di VVIP Room Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo, Rabu (10/1/2024).
Tempo antara pernyataan dukungan politik resmi dan terbuka dari Khofifah kepada pasangan 02 di Pilpres 2024 dengan hari H pencoblosan sekitar 34 hari. Dalam tempo tersebut menjadi momentum dan pergerakan politik yang benar-benar efektif dan berpengaruh besar pada akselerasi dukungan politik kepada pasangan 02 di Jatim.
Hal itu terbukti dengan kenaikan elektabilitas pasangan 02 di Jatim secara signifikan, lebih dari 20 persen. Prabowo-Gibran menang telak di Jatim dengan perolehan 65,19 persen suara.
Tentu saja, kemenangan politik meyakinkan pasangan 02 di Jatim pada Pilpres 2024 bukan semata-mata karena faktor Khofifah Effect. Ada banyak faktor lain yang mempengaruhi, seperti kesolidan partai pengusung dan tim relawan, dukungan politik dari para tokoh organisasi sosial kemasyarakatan, dan lainnya. Kendati demikian, faktor Khofifah jadi determinan politik penting di balik akselerasi elektabilitas politik 02 di ranah Jatim saat Pilpres.
Rangkaian peristiwa politik saat Pileg dan Pilpres 2024 kemungkinan besar berimplikasi dalam makna positif kepada Khofifah saat memasuki kontestasi Pilgub Jatim 2024. Khofifah jadi tokoh yang memiliki momentum politik pas dan menjanjikan untuk bisa menggapai hasil maksimal di Pilgub dan merealisasikan ekspektasinya melanjutkan periode kedua kepemimpinan di Jatim.
Sekalipun perubahan dan dinamika politik adalah realitas yang bisa terjadi sewaktu-waktu, ada yang bersifat predictable dan unpredictable, potret lingkungan politik di ranah nasional dan Jatim seperti sekarang adalah poin positif bagi running Khofifah di Pilgub Jatim 2024. Pertanyaannya: Siapa kompetitor Khofifah?
Ainur Rohim,
Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com






