Kediri (beritajatim.com) – Bagi Yo’in Sari, menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri ternyata mimpi buruk. Tak seperti kabar indah yang selama ini dia dapat. Gaji besar, hidup enak, dan punya banyak aset di kampung.
Nyatanya, wanita asli Kediri, Jawa Timur ini justru hidup terlunta-lunta di negeri orang. Sempat menggelandang lantaran jadi korban agen penyalur tenaga kerja yang ternyata ilegal.
Parahnya, dia sempat jadi buronan lantaran terjerat kasus hukum. Penderitaannya makin menjadi ketika dia ternyata dijadikan “sapi perahan” alias diperas oleh oknum tak bertanggung jawab. Hal yang selama ini tak pernah terlintas dalam benaknya, terjadi begitu nyata.
Sebenarnya, Sari tak pernah punya keinginan bekerja di luar negeri. Tetapi, hal itu terpaksa dia jalani demi menyambung hidup dan masa depan tiga buah hatinya.
Saat di negeri manca, wanita yang sempat menjanda rela bekerja sebagai buruh cuci piring di restoran dengan bayaran ala kadarnya dan selalu dikejar-kejar oleh polisi. Bahkan sempat ditodong pisau oleh sang majikan.
Kisah hidup kelam mantan pahlawan devisa ini bermula saat mahligai rumah tangganya kandas. Sari yang lahir dan besar di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur itu akhirnya memutuskan merantau ke Hong Kong. Di sana, dia menjalani pekerjaan sebagai asisten rumah tangga dengan tugas utama merawat bayi baru lahir sekaligus wanita lanjut usia.
“Aku janda ditinggal suami. Saya mikir menghidupi anak tidak cukup kasih sayang saja, tetapi materi juga. Anak saya tiga,” tutur Sari saat mengawali podcast di channel YouTube Petuah Kehidupan milik owner Batik Lochatara Kediri.
Sari bercerita, sejak awal keberangkatannya ke luar negeri berjalan tidak mulus. Dia nekat mencuri dokumen tanpa sepengetahuan orangtuanya demi bisa ke luar negeri.
Selain itu negara yang jadi tujuan malah di luar dari keinginannya. Dia sebenarnya ingin ke Singapura, malah diarahkan ke Hong Kong. Tapi, Sari tidak peduli semua itu. Di pikirannya, hanya ada keinginan segera bekerja dan mendapatkan uang.
“Saya berangkat ke luar negeri mencuri data. Tanpa sepengetahuan ibu. Pulang-pulang, ibu saya tak suruh tanda tangan. Kemudian saya bilang ke ibu, doakan saja supaya berhasil menghidupi semua. Sebenarnya tujuannya ingin ke Singapura. Tetapi sama pelopor PT-nya diarahkan ke Hong Kong,” terang dia.
Soal Hong Kong jadi pilihan, kata Sari, lantaran Perusaha Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang memberangkatkan hanya memiliki dua tujuan negara yaitu Hong Kong dan Taiwan. Tidak ada tujuan Singapura seperti yang dia inginkan. Karena terpaksa, dia akhirnya memutuskan Hong Kong menjadi negara tujuannya meraup penghasilan.
Sari berangkat secara resmi Hong Kong. Di sana, dia mendapatkan majikan dengan kontrak kerja selama dua tahun.
“Saya bekerja sebagai asisten rumah tangga. Menjaga anak baru lahir dan orang tua yaitu nenek dari majikan perempuan, walaupun neneknya masih sehat, masih bisa bekerja,” terang Sari.
Beberapa bulan Sari menjalankan pekerjaan, semua berjalan normal. Seluruh tugas dia kerjakan sampai tuntas. Masalah baru muncul ketika masa kerjanya genap satu tahun.
Suatu sore jelang makan malam, ada peristiwa yang tak pernah bisa dia lupakan. Kala itu, ia sedang di dapur bersama nenek majikan. Awalnya, mereka berdua ngobrol biasa. Tiba-tiba, sang nenek bertindak yang membahayakan Sari.
“Neneknya gregetan sampai nodongkan pisau. Itu tepat di kening,” kata Sari sambil menunjukkan kening yang ditodong menggunakan pisau dapur.
Merasa terancam, Sari melawan. Dia balik mengancam sang nenek dengan berencana melaporkan tindakan berbahaya itu.
“Kalau mengenai saya, saya pokingkan (lapor polisi). Saya waktu itu melawan, saya ngomong, kalau mengenai saya, saya bisa laporkan, lho. Karena TKW itu punya hak dan dilindungi. Setelah saya ancam akan saya laporkan ke pihak berwajib, reaksi nenek itu ngeles. Katanya hanya bercanda,” lanjut Sari.
Peristiwa sore di dapur itu akhirnya diketahui oleh majikan perempuan Sari. Meskipun saat kejadian sedang tidak di rumah, majikan melihat dari rekaman kamera CCTV. Ada dua CCTV yang mengawasi seisi rumah. Satu unit berada di atas tempat tidur Sari dan bisa menjangkau ke arah dapur. Satu lainnya di ruang makan.
“Majikan perempuan kebetulan tidak ada, karena pulangnya malam. Kalau majikan pria jarang pulang. Kemudian esok harinya, majikan perempun minta saya supaya tidak melapor ke polisi dan memaafkan nenek,” tambah Sari.
Setelah kejadian itu, Sari merasa tidak nyaman. Apalagi dia selalu disalahkan setiap kali bekerja. Terlebih saat keluarga majikannya pindah rumah. Dari semula mereka tinggal di rumah orang tua majikan laki-laki, kemudian pindah ke rumah majikan perempuan. Waktu boyongan itu berlangsung saat mendekati Hari Raya Imlek.
Tinggal di rumah orang tua majikan perempuan, Sari semakin dibenci, baik oleh nenek maupun majikan perempuannya. Bahkan, ia kerap dituduh melakukan perbuatan yang tidak pernah ia lakukan. Mulai dari dituduh merusak sampai mencuri ponsel majikan. Padahal, gadget tersebut tergeletak di tempatnya. Tidak pernah berpindah.
“Saya dituduh mencuri iPhone 6 milik majikan perempuan. Meski HP-nya ketemu, majikan perempuan dan nenek tetap jengkel. Padahal HP itu sudah rusak, saya yang dituduh,” terus Sari.
Puncak dari peristiwa tidak mengenakkan yang dialami Sari terjadi setelah 1 tahun bekerja. Saat itu, sang majikan pergi liburan bareng teman-temannya. Majikan perempuan berangkat pagi dan pulang sore hari.
Saat pulang, tiba-tiba langsung membanting pintu. Tak lama kemudian keluar kamar dan memarahi Sari lantaran dianggap tidak bisa menjaga kebersihan. Bahkan, sang majikan mengancam akan memecat Sari saat itu juga.
“Mungkin dia cari-cari kesalahan supaya bisa mengeluarkan saya. Saya bilang, kalau nyonya mau ngeluarkan, tidak-apa apa. Saya sempat telepon agency, namun malah disuruh supaya sabar dan bertahan. Kejadian itu pada hari Kamis. Lalu hari Jumat dan Sabtu saya masih kerja. Minggu itu libur. Saya bilang sudah tidak kuat kerja disini. Kemudian saya terlibat cek cok mulut dengan majikan perempuan. Nyonya tidak mau memberikan gaji. Malah bilang nanti saja jumpa di pengadilan,” ungkap Sari.
Angkat kaki dari rumah majikan, Sari pun kebingungan. Apalagi dia tidak membawa dokumen-dokumen diri seperti paspor. Dia kemudian minta tolong pada sesama TKW asa Blitar yang bekerja di Hongkong. Lalu, dia di ajak ke rumah salah seorang agency dan ditampung di sana. Tetapi mendapatkan majikan yang baru, Sari harus bayar sebesar 3.000 dolar atau sekitar Rp6 juta.
“Dapat majikan lagi. Pekerjaanya sama sebagai asisten rumah tangga dengan menjaga anak kecil. Kemudian dianggap bawah saya track record saya buruk, lalu dikembalikan ke agen. Lalu bayar lagi. Begitu seterusnya,” lanjut Sari.
Sari merasa seolah menjadi sapi perahan agency nakal. Bekalangan diketahui apabila agen tersebut ilegal. Setiap kali minta tolong untuk dicarikan majikan baru, Sari pun harus mengeluarkan uang. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk kabur dan menjadi buronan dari otoritas kepolisian setempat.
Demi jatah keluarga di Indonesia, Sari nekat mengambil risiko berat. Dia mencari pekerjaan part time dengan menjadi buruh cuci piring di sebuah restoran. Gajianya dibayarkan haris setelah selesai pekerjaan. Ternyata TKI dengan status over stay (OS) seperti Sari di Hongkong tidak sedikit. Pilihannya adalah bekerja part time di tempat-tempat usaha sebagai buruh.
Tetapi tidak seperti di Indonesia, status kewarganegaran di Hongkong sangatlah ketat. Bagi TKI yang memilih OS sulit untuk lolos. Apalagi kartu identitas mereka selalu berbunyi manakala bertemu dengan pihak kepolisian. Disamping iut, polisi juga tidak pandang bulu. Bagi TKI OS yang ketahuan, bisa langsung ditangkap dan diborgol di tempat umum sekalipun. Para TKI OS dituntut mencari selamat sendiri-sendiri.
“Saya pernah kerja sebagai tukang cuci piring langsung gajian. Ada polisi masuk ke restoran. Untungnya saya bawa jaket. Jadi langsung pakai jaket dan pakai masker. Dan KTP saya selipkan di kaki. Kebetulan pakai kaus kaki tinggi. Supaya bunyinya tidak terlalu keras suaranya. Saya juga pernah nyelip di keramian di Mall dan bersembunyi di toilet,” ucapnya.
Menjadi TKW OS, kata Sari tidaklah mudah. Selain buronan polisi, mereka juga harus berseteru dengan teman sesamanya. Ibarat saling bunuh satu sama lainnya. Antar TKW OS saling melaporkan demi mendapatkan imbalan dari pihak kepolisian. Biasanya itu terjadi di tempat kos-kosan. Antar satu sama lainnya saing melapor. Selain itu, antar sesama TKW OS saling sikut dalam mencari tempat kerja.
Selama kurang lebih 5 bulan menjadi buronan, Sari merasa seolah sudah tidak sanggup. Disisi lain, jika takut untuk menyerahkan diri karena tidak mau dipenjara. Menurut Sari, berdasarkan pengalaman TKW yang pernah dikurung di Hongkong, sangatlah menderita. Belum lagi beban orang tuanya di Indonesia jika mengetahui anaknya masuk penjara.
Singkat cerita Sari bertemu dengan pengurus sebuah organisasi yang menaungi TKI Indonesia. Dia beri saran supaya menyerahkan diri dengan diberi surat pengantar ke kantor polisi. Sudah lelah kabur dan hidup dalam ketakutan, Sari akhirnya memilih menyerahkan diri. Dia juga tidak ditahan di dalam penjara sebagaimana sudah dibayangkan sebelumnya.
“Prosesnya lama bisa bulanan. Kalau kita lengkap paspor, kita sidang. Tapi kayak saya, agak lama. Setelah satu bulan itu, kita absen. Jjadi tahanan luar. Bisa aktifitas, tapi tidak bisa kerja. Kita makannya dikasih voucher. Itu yang jamin bukan polisi. Itu makannya dari organisasi yang dirupakan voucher lalu ditukar. Kalau nasi disediakan, kalau lauk pauk beli sendiri pakai voucher itu,” terang Sari.
Sari mengikuti seluruh proses itu dengan sabar. Ketika disuruh datang ke kantor polisi, ia pun datang. Meskipun tidak ada kejelasan waktu pulang ke tanah air. Semula, Sari harus absen dua kali dalam sebulan. Tetapi bulan kedua, dia hanya laporan sekali saja. Lalu dia diperbolehkan pulang dan uang jaminannya dikembalikan.
“Seketika itu saya sujud syukur walaupun kami berbeda agama. Saya disuruh mencari surat SPLT (pengganti pasport sekali jalan). Saya ngurusnya lama sekali, karena agen saya pertama ya begitu, agen kedua ternyata buronan. Kemudian saya dikasih lembaran tiket dalam bentuk kertas print-printnan dulu di HP. Kemudian diminta datang lagi ke kantor untuk mengambil. Terus disuruh balik ke kantor polisi juga. Saya ikuti semua proses itu,” jelas Sari.
Sari mengaku ada banyak TKW Hongkong yang bernasib sama sepertinya. Tapi Sari bersyukur akhirnya bisa kembali ke Indonesia. Bertemu dengan orang tua dan ketiga anaknya. Akhirnya dia membandingkan menjalani kehidupan di kampung halamannya jauh lebih indah ketimbang di luar negeri. Dia membagikan kisah hidupnya ini supaya bisa menjadi pelajaran bagi dirinya dan orang lain.
“Buat teman-teman semua yang bekerja ke luar negeri, lebih hati-hati dalam bekerja. Jangan bicara seenaknya dengan majikan. Kalau bisa jangan bekerja di luar negeri, karena lebih baik di Indonesia saja. Apalagi seperti saya tidak punya paspor, bisa dipenjara,” tuturnya berpesan. [nm/beq]






