Jember (beritajatim.com) – Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) untuk penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Jember, Jawa Timur, Tahun Anggaran 2025 terimbas pemilihan umum. Saat ini pemilu memasuki masa rekapitulasi suara tingkat kecamatan dan kabupaten.
Biasanya, pejabat organisasi perangkat daerah Pemkab Jember yang terdiri atas lima tim datang ke 31 kantor kecamatan. “Namun karena ini bersamaan dengan proses politik, ada perhitungan suara, agak riskan juga mengumpulkan orang banyak. Akhirnya kami menggunakan pola hibrid, online dan offline,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Arief Tjahjono, ditulis Jumat (1/3/2024).
Peserta Musrenbang yang berdomisili di kecamatan masing-masing yang terdiri atas beberapa pejabat, tokoh masyarakat, dan anggota DPRD Jember bisa hadir langsung di kantor kecamatan setempar. Sementara itu organisasi perangkat daerah sebagai pembina teknis berada di kantor dengan menggunakan konferensi video Zoom Meeting. “Prosesnya sama,” kata Arief.
Dua tahun ini, Pemkab Jember memberlakukan kamus usulan. “Kami minta kegiatan-kegiatan yang mungkin dilakukan OPD teknis. Kami rangkai itu, kemudian kami sampaikan, agar usulan (dari kecamatan) tidak bermacam-macam,” kata Arief.
“Dengan kamus usulan, mereka (pemangku kepentingan di desa dan kecamatan) bisa membuka wawasan, ternyata ada kegiatan OPD yang bisa kita tarik dan diusulkan sesuai kebutuhan wilayah setempat,” kata Arief.
Arief menegaskan, kamus usulan bukan untuk membatasi aspirasi dari bawah. “Kadang-kadang fantasi tidak berdasarkan kebutuhan, tapi keinginan. Itulah kenapa harus ada kamus usulan,” katanya.
Pemkab Jember terus bekerja sama dengan DPRD Jember. “Karena pengusulan ada yang top down yang ditentukan pusat, dan ada yang bottom up yang berasal dari musrenbang. Ketiga, ada proses politik, termasuk Pokir (Pokok Pikiran) yang kami padukan menjadi kerangka utuh perencanaan penganggaran kabupaten,” kata Arief.
Arief mengakui, usulan-usulan DPRD Jember melalui Pokir ini dinamis. “Kalau di sepak bola, teman-teman DPRD Jember ini ingin menyerang. Kalau kami defender, jangan los. Kadang mereka dikasih pagu sekian, bablas sampai sekian. Dinamika biasalah,” katanya. [wir]






