Banyuwangi (beritajatim.com) – PT Bumi Suksesindo, perusahaan tambang emas di kawasan Tumpang Pitu, Banyuwangi, bersiap beralih dari sistem open pit (tambang terbuka) ke tambang bawah tanah. Hal ini dilakukan menyusul penurunan produksi emas yang signifikan.
Pada tahun 2023, produksi emas di tambang Tumpang Pitu mencapai 129 ribu ounce, meningkat dari 125 ribu ounce di tahun 2022. Namun, untuk tahun 2024, perusahaan memproyeksikan penurunan produksi hingga 121 ribu ounce.
“Tambang open pit makin sulit seiring dengan semakin dalamnya lapisan tanah yang digali,” ungkap Hariadhi Anjar Kusuma, Heap Leach Operation Head PT Bumi Suksesindo.
Sistem open pit memang terbilang sederhana. Penambang menggali tanah untuk mencari ore (batu mineral) yang kemudian diolah di heap leach. Air dialirkan untuk memisahkan mineral mulia dari tanah dan batuan. Emas dan perak kemudian diserap oleh karbon aktif dan diolah menjadi dore bullion, yang selanjutnya dimurnikan di Antam.
Penurunan produksi emas di Tumpang Pitu disebabkan oleh rasio emas yang semakin menurun. Pada awal operasi di tahun 2017, 3-4 gram emas bisa didapatkan dari 1 ton ore. Saat ini, rata-rata emas yang didapat hanya mencapai 0,8 gram per ton ore.
“Sebagai solusi sementara, kami mungkin menambah pad heap leach ke empat. Tapi, emasnya pasti makin jarang semakin dalam lapisannya. Kami prediksikan sistem open pit akan sulit diterapkan setelah tahun 2027,” jelas Hariadhi.
Peralihan ke tambang bawah tanah menjadi solusi untuk mengatasi penurunan produksi. Sistem ini memungkinkan penambangan di kedalaman yang lebih dalam dan diharapkan dapat meningkatkan kembali produksi emas di Tumpang Pitu.
Mulai Membidik Tembaga
PT BSI pun mulai membidik kandungan terdalam dari Bukit Tujuh yang ternyata mengandung tembaga.
Menurut General Manager of Operations PT BSI, Roelly Franza, saat ini di permukaan bawah tanahnya Bukit Tujuh ditemukan tembaga yang diprediksi bisa ditambang hingga 20 tahun kedepan.
“Saat ini challange kami adalah mempersiapkan studi kelayakan. Mulai dari studi kelayakan ekonomis, kelayakan teknologi, kelayakan sosial dan yang paling penting kelayakan lingkungan. Empat faktor ini tidak boleh ada yang terlewatkan,” papar Roelly.
Saat ditanya terkait kapan PT BSI akan melakukan penambangan tembaga, Roelly mengaku belum bisa memastikan karena proses studi kelayakan cukup detail dan harus dilakukan dengan teliti.
“Saat ini kami baru mengantongi izin untuk penambangan emas hingga 2027, semoga nanti dipercaya pemerintah untuk melakukan penambangan tembaga, usai emasnya tak lagi ekonomis untuk di tambang,” tandasnya.[rea/kun]






