Surabaya (beritajatim.com) – Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Citra Hennida membeberkan potensi besar di balik industri halal Indonesia.
Sebelumnya, Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin bersama sejumlah pejabat bertolak ke Selandia Baru untuk melakukan kunjungan kerja sekaligus membawa misi diplomasi industri halal.
Citra mengatakan, Selandia Baru bukanlah satu-satunya mitra industri halal bagi Indonesia. Namun, Selandia Baru tampaknya masih menjadi mitra strategis Indonesia sebab hampir setengah nilai perdagangan kedua negara berkaitan dengan aspek halal, termasuk produk pertanian dan peternakan.
“Kerjasama dengan Selandia Baru juga untuk memastikan jaminan halal produk-produk yang datang dari Selandia Baru. Perlu dipastikan apakah sudah tersertifikasi halal atau belum, baik dari sumber maupun prosesnya,” katanya, Jumat (1/3/2024).
Citra mengungkapkan, sejumlah produk yang mudah diamati adalah daging dan susu. Sedangankan produk yang cukup sulit diamati yakni seperti penggunaan gelatin, bahan-bahan makanan, dan kosmetik.
“Kalau Indonesia mau menjadi hub halal dunia maka diperlukan pembangunan rantai produksi dan memastikan Indonesia ada dalam rangkaian rantai produksi tersebut,” katanya.
Menurutnya, sudah saatnya Indonesia memproduksi barangnya sendiri dan dilengkapi label halal. Kata dia, pasar-pasar potensial untuk memasarkan produk halal Indonesia ada di Middle East and North Africa (MENA) dan negara-negara non muslim.
Ditambahkan, bahwa memasarkan produk halal di negara-negara non muslim dapat mendorong sustainable industry ke depannya. Konsumen muslim di negara-negara non muslim akan aware dengan produk-produk yang diberi label halal. “Hal itu tentunya bisa menjadi ceruk pasar yang potensial bagi Indonesia,” ungkapnya.
Di sisi lain, Indonesia juga memiliki potensi wisata halal yang menjanjikan jika dikembangkan dan digarap serius oleh pemerintah. Promosi wisata halal akan memudahkan wisatawan asing muslim yang memerlukan amenities halal di lokasi wisata.
“Bisa dibilang Indonesia memiliki potensi yang menjanjikan tapi belum digarap maksimal. Hal itu masih menjadi PR bagi pemerintah yang perlu segera diselesaikan, termasuk sentimen-sentimen negatif di dalam negeri yang mengaitkan industri halal dengan upaya Islamisasi,” ungkapnya.
Industri halal saat ini masih dikuasai oleh negara-negara non muslim dengan 5 pemain utama, yakni Amerika, India, Rusia, Argentina, dan Brazil. Di level Asia Tenggara, industri halal masih dikuasai oleh Thailand. Posisi Indonesia saat ini masih menjadi konsumen keempat terbesar dunia di bawah Arab Saudi, Malaysia, dan UEA.
“Siapapun presiden yang akan terpilih nanti, diplomasi halal perlu terus dilakukan. Mengingat potensi industri halal yang menjanjikan, Indonesia harus segera berbenah agar dapat menjadi hub halal dunia seperti yang dicita-citakan. Selain itu, kalau mau mengembangkan industri halal, Indonesia juga perlu bermitra dengan para pemain dari lima negara non muslim itu,” tutupnya. [ipl/suf]






