Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi baru-baru ini membuka layanan uji tanah untuk pemupukan tepat dosis berbasis internet of things (IoT). Layanan tersebut dapat dimanfaatkan secara gratis oleh para petani.
Petugas menggunakan alat bernama Jinawa yang dapat mendeteksi unsur hara makro di dalam tanah secara cepat dan real time, seperti unsur Nitrogen (N), fosfor (P), Kalium (K), serta pH tanah. Tujuannya, untuk mengukur jumlah kebutuhan pupuk di lahan pertanian warga, sehingga dapat presisi penggunaannya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, Arief Setiawan mengatakan, layanan tersebut merupakan upaya untuk menjaga kualitas tanah. Berdasarkan data dinas pertanian, rata-rata kesuburan tanah di Banyuwangi mulai menurun dengan kadar karbon organik berada di bawah 2 persen.
Salah satunya, kata Arief, disebabkan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dalam waktu lama. “Kami juga terus mendorong petani mulai beralih ke pertanian organik. Selain lebih ramah lingkungan, produk hasil pertanian organik memiliki daya jual tinggi,” ujarnya.
Bahkan, lanjut Arief, pemerintah terus mendukung pertanian organik dengan melakukan berbagai program. Di antaranya mengadakan pelatihan pembuatan pupuk organik, agen hayati, demplot pertanian organik, hingga memberikan bantuan pupuk organik cair kepada petani.
“Hingga saat ini pupuk organik cair yang kita bagikan mencapai 466.636 liter. Jumlah ini bisa mengcover lahan seluas 83.524 ha,” pungkas Arief. (rin/kun)






