Surabaya (beritajatim.com) – Everton, klub Liga Premier Inggris yang terkenal dengan sejarah panjangnya, mengalami periode penuh gejolak pada musim 2023/2024.
Pada November 2023, klub ini digemparkan dengan pengurangan 10 poin akibat pelanggaran keuangan, menjerumuskan mereka ke zona degradasi.
Hukuman ini menjadi yang terberat dalam sejarah Liga Premier selama 31 tahun terakhir, mengancam status Everton di kasta tertinggi sepak bola Inggris yang telah mereka pertahankan selama 70 tahun.
Akar Permasalahan
Berdasarkan penyelidikan komisi independen, Everton mengalami kerugian finansial yang signifikan, mencapai $155 juta (Rp2.430.090.000.000,00) dalam tiga tahun terakhir. Pedoman Liga Premier hanya mengizinkan kerugian maksimum $130 juta (Rp2.038.010.000.000,00) dalam periode yang sama.
Upaya Melawan Hukuman
Menolak untuk menerima nasib, Everton mengajukan banding atas keputusan tersebut. Dipimpin oleh Laurence Rabinowitz KC, proses banding berlangsung selama tiga hari mulai 31 Januari. Komite banding independen beranggotakan tiga orang, yang tidak terlibat dalam komisi awal, meninjau kembali kasus ini. Everton berargumen bahwa terdapat faktor-faktor yang meringankan pelanggaran mereka, seperti dampak sanksi akibat perang di Ukraina dan perubahan dalam perhitungan pembayaran bunga stadion baru klub.
Hasil yang Berubah
Upaya banding Everton tidak sia-sia. Hukuman 10 poin direduksi menjadi enam poin. Keputusan final ini mengantarkan Everton ke posisi 15 klasemen dengan total 25 poin, lima poin di atas zona degradasi.
Preseden Bersejarah
Hukuman pengurangan poin bagi Everton merupakan peristiwa langka dalam sejarah Liga Premier. Sebelumnya, hanya tiga klub lain yang pernah mengalami penalti poin: Middlesbrough (3 poin) karena gagal menyelesaikan pertandingan pada 1996/97, Portsmouth (9 poin) akibat kebangkrutan pada 2010, dan Tottenham (12 poin) karena masalah keuangan sebelum musim 1994/1995, meskipun kemudian dibatalkan.
Kisah Everton menjadi contoh nyata bagaimana pelanggaran keuangan dapat membawa konsekuensi serius dalam dunia sepak bola profesional. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub lain untuk selalu mengedepankan pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab. (ted)






