Mojokerto (beritajatim.com) – Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mojokerto tenggah melakukan pengembangan metode pembibitan tebu yang lebih efisien dan berkualitas dengan teknik Bud Chips. Dengan teknik Bud Chips nantinya akan dihasilkan bibit tebu dalam jumlah yang lebih banyak dan menghemat penggunaan bibit saat pembibitan.
“Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya produksi gula, salah satunya dikarenakan rendahnya kualitas bibit tebu,” ungkap Wakil Administratur Perhutani Mojokerto, Timur Denny Yadianurtopo saat kegiatan pengembangan Agroforestry Tebu Mandiri (ATM) di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Garung, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kambangan, Kecamatan Sambeng, Lamongan.
Denny yang juga menjabat sebagai Koordinator Pengawalan ATM ini menjelaskan, teknik Bud Chips diyakini dapat meningkatkan kualitas bibit tebu. Teknik Bud Chips dilakukan dengan melakukan pengeboran di sekitar mata tunas secara melingkar dengan mengikutsertakan sebagian titik akar tumbuh. Dengan cara ini bisa menghasilkan 10-15 anakan tanaman.
“Jumlah yang lebih banyak dibanding dengan cara menanam konvensional yang hanya menghasilkan 8-10 anakan tanaman. Teknik Bud Chips mampu menghemat bibit hingga enam kali dibanding dengan cara menanam konvensional. Penggunaan teknik Bud Chips hanya membutuhkan bibit 1-2 ton per hektar,” katanya.
Sedangkan penanaman konvensional membutuhkan bibit hingga 6-7 ton per hektar. Apalagi bibit tebu yang ditanam pun bisa berproduksi hingga 95 ton per hektar. Sedangkan dengan metode bagal (konvensional) hanya mencapai 65 ton per hektarnya. Produk kayu dan getah masih menjadi penyumbang utama pendapatan Perusahaan.
“Tetapi karena adanya situasi global terhadap wilayah-wilayah yang menjadi pasar produk Perhutani mengakibatkan lemahnya daya beli terhadap kedua Produk tersebut. Agroforestry Tebu Mandiri inilah menjadi produk unggulan berikutnya yang diharapkan mampu memberi kontribusi pendapatan besar bagi Perhutani,” tuturnya.
Direktur Operasi Perhutani, Natalas Anis Harjanto mengatakan, produk kayu dan getah masih menjadi penyumbang utama pendapatan perusahaan. Tetapi karena adanya situasi global terhadap wilayah-wilayah yang menjadi pasar produk Perhutani mengakibatkan lemahnya daya beli terhadap kedua produk tersebut.
“Agroforestry Tebu Mandiri inilah menjadi produk unggulan berikutnya yang diharapkan mampu memberi kontribusi pendapatan besar bagi Perhutani. Apresiasi buat rimbawan Mojokerto dengan kondisi seperti ini, teman-teman masih punya semangat untuk berinovasi dan kerja keras demi perusahaan dengan mampu menampilkan metode-metode inovatif terkait pengembangan agroforestry tebu,” ujarnya.
Sementara itu, Administratur Perhutani Mojokerto, Rusydi mengucapkan terima kasih atas kunjungan Direktur Operasi Perum Perhutani di KPH Mojokerto. “Kami beserta jajaran Perhutani Mojokerto tetap semangat, bekerja keras untuk mengawal suksesnya ATM yang sudah ditargetkan oleh perusahaan, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan perusahaan,” pungkasnya.
Kunjungan kerja Direktur Operasi Perhutani Natalas Anis Harjanto didampingi Kepala Divisi Multi Usaha Kehutanan (MUK) Perum Perhutani, Errik Alberto, Kepala Departemen PSDH dan Produksi Divisi Regional Jawa Timur, Gunawan Sidik Pramono dan diterima langsung oleh Administratur Perhutani Mojokerto, Rusydi beserta jajaran. [tin/ian]






