Surabaya (beritajatim.com) – Tim riset Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengembangkan alat penghasil es ramah lingkungan. Anggota tim Irgi Israr Altamis mengatakan bahwa untuk semantara, proyek ini untuk membantu meningkatkan produksi nelayan di Desa Bringsang, Sumenep.
Menurutnya, dengan potensi baharinya yang besar, kelompok nelayan di desa tersebut masih kesulitan dalam pemenuhan ketersediaan bahan pengawet berupa es.
“Permasalahan yang dihadapi adalah daya listrik yang ada tidak dapat memenuhi kebutuhan suplai listrik untuk lemari es,” kata Irgi, Selasa (20/2/2024).
Ia mengungkapkan, karena terletak di kawasan pesisir, Desa Bringsang cenderung mendapatkan intensitas cahaya matahari yang tinggi sepanjang tahun.
Ini memungkinkan cahaya matahari menjadi sumber energi listrik baru selain Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang penggunaannya terbatas di desa tersebut.
Di samping itu, pemakaian fotovoltaik (panel surya) dinilai efektif untuk mengurangi emisi karbon, serta upaya untuk menjaga konsentrasi oksigen di udara.
Irgi menjelaskan, alat yang digunakan merupakan lemari es low watt ramah lingkungan yang terintegrasi dengan fotovoltaik. Cahaya matahari yang ditangkap oleh panel surya kemudian diubah menjadi arus listrik searah atau Direct Current (DC).
“Berdimensi 2×1,64 meter, panel surya 300 watt-peak (wp) yang digunakan dapat memenuhi kebutuhan listrik lemari es hingga 20 jam per hari,” jelasnya.
Arus listrik yang dihasilkan kemudian dibawa ke Solar Charge Controller (SCC) untuk memastikan panel surya menghasilkan daya maksimum dan mentransfernya ke baterai dengan efisiensi tinggi.
“Baterai berfungsi untuk menyimpan energi sehingga alat ini tidak hanya beroperasi saat terkena sinar matahari, tetapi juga saat malam hari,” tambahnya.
Sebelum dapat digunakan pada lemari es, arus listrik DC harus diubah menjadi Alternating Current (AC) dengan menggunakan inverter. Sedangkan inverter yang terhubung ke lemari es akan memastikan ketersediaan listrik harian agar produksi es dapat terpenuhi.
“Dapat menampung hingga 150 liter air, produksi es dilakukan tiga kali sehari dan dapat digunakan secara komunal oleh kelompok nelayan di Desa Bringsang,” kata Mahasiswa Departemen Teknik Elektro tersebut.
Selain pengembangan alat penghasil es, Irgi dan rekan-rekannya juga melakukan pembinaan digitalisasi pasar untuk nelayan melalui pengenalan e-commerce. Sosialisasi ini bertujuan untuk mendukung peningkatan produktivitas masyarakat.
Tidak hanya menjual tangkapan laut secara langsung, masyarakat juga dapat memanfaatkan berbagai platform untuk menjual dan mendistribusikan olahan makanan ke luar pulau. Irgi berharap penelitian ini dapat menjadi solusi yang aplikatif bagi nelayan lain yang memiliki permasalahan serupa. “Semoga penelitian ini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan di Indonesia,” tuturnya. [ipl/kun]






