Malang (beritajatim.com) – Guru Besar Universitas Brawijaya (UB) Prof. Dr. Ir. Sitawati, M.S., menjelaskan soal hortikultura lanskap yang merupakan bagian dari ilmu hortikultura khusus untuk mempelajari tentang penataan tanaman dalam mengatur dan mendapatkan lingkungan estetik.
Ilmu ini salah satunya dapat diterapkan untuk menciptakan kenyamanan kota.
Prof Sitawati mengusung konsep hortikultura lanskap model 3E (Estetika-Ekologis-Ekonomis). Model ini menjadi pengembangan dari hortikultura lanskap yang menambahkan nilai ekologis dan ekonomis.
“Hortikultura Lanskap 3E menjadi penting mengingat pada saat ini. Apalagi populasi penduduk di perkotaan meningkat dengan perkiraan sekitar 53% penduduk bertempat di perkotaan.
“Maka kebutuhan lingkungan tidak hanya estetika dengan tampilan bentuk, struktur vegetasi dan arsitektur tanaman yang indah, tapi juga ekologis dan ekonomis,” ungkap guru besar UB ini saat jumpa pers, Selasa (20/2/2024).
Pada Hortikultura Lanskap 3E, keberadaan tanaman di perkotaan akan menambah luas Ruang Terbuka Hijau (RTH), menurunkan Urban Heat Island (UHI) dan meningkatkan Temperature Humidity Index (THI). Maka dari itu, dapat memberi kenyamanan penduduk di perkotaan daripada Hortikultura Lanskap yang hanya menampilkan keindahan.
“Di lain hal, dengan populasi urban yang tinggi, keterbatasan lahan dan kebutuhan ekonomi yang kompetitif. Hortikultura Lanskap 3E dengan pemilihan jenis tanaman yang mempunyai nilai ekonomi, akan memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat di daerah urban yang mempunyai keterbatasan ekonomi,” katanya menutup.
Menurut guru besar bidang hortikultura ini kota nyaman tidak hanya karena banyak tanaman dari sisi ekologis saja, tetapi juga perlu estetis sekaligus diperlukan sisi ekonomisnya. Ia mencontohkan UB, yang dulunya banyak tanaman mahal, tapi kurang estetik.
“Setelah saya mengembangkan tanaman di UB penampilannya jadi lebih estetis. Lalu secara ekonomis juga sedang kami kembangkan, jadi ada sisi ekonomi juga ada. Contohnya di kampus UB Dieng, pada november 2023 ada tanaman yang membuat suasananya indah, seperti di Jepang,” ungkap Prof Sitawati.

Untuk kota Malang, dia menyarankan agar dapat memanfaatkan lahan kosong. Lahan tersebut dapat digunakan untuk menanam tanaman sehingga dapat dikembangkan menjadi kota yang nyaman secara ekologis, estetis, dan punya nilai ekonomis.
Prof Sitawati akan dikukuhkan sebagai profesor pada bidang Ilmu Hortikultura pada Rabu (21/2/2024). Ia membacakan naskah pidato dengan judul “Hortikultura Lanskap Model 3E (Estetika-Ekologis-Ekonomis) sebagai Solusi Kenyamanan Lingkungan Perkotaan”.
Prof. Sitawati, M.S. sebagai Profesor aktif ke 33 di Fakultas Pertanian (FP) dan Profesor aktif ke 208 di UB dan menjadi Profesor ke 371 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan UB. Ia dikukuhkan bersama tiga profesor lainnya.
Pertama, Prof. Dr. Ali Maksum., M.Ag.,M.Si. sebagai Profesor aktif ke 4 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Profesor aktif ke 209 di Universitas Brawijaya serta menjadi Profesor ke 372 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh UB.
Kedua, Prof. Dr. Ir. Nur Edy Suminarti, M.S. sebagai Profesor aktif ke 34 di Fakultas Pertanian (FP) dan Profesor aktif ke 210 di Universitas Brawijaya. Prof Nur Edy menjadi Profesor ke 373 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh UB.
Ketiga, Prof. Dr. Wuryan Andayani, CA., CSRS., CSRA., sebagai Profesor aktif ke 29 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan Profesor aktif ke 211 di UB. Prof Wuryan menjadi Profesor ke 374 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh UB. (dan/ted)






