Banyuwangi (beritajatim.com) – Sejumlah pedagang makanan nasi bungkus di Banyuwangi mengeluh akibat mahalnya harga beras. Sebulan terakhir, beras di pasaran harganya terus mengalami peningkatan.
Siti Maria salah satu pedagang nasi bungkus di depan Kelurahan Giri, Kecamatan Giri Banyuwangi mengaku harus memutar otak untuk menyiasati mahalnya harga beras. Salah satunya mengurangi porsi nasi bungkus demi dapur tetap ngebul.
“Ya cukup berpengaruh bagi kami pedagang kecil seperti ini. Sekarang semua kebutuhan naik, sembako mahal terutama beras ini paling terasa,” kata Maria.
Bersama suaminya Rojikin, Siti Maria memulai usahanya sejak 1997 silam. Berbagai terpaan mengenai biaya produksi pernah dirasakan. Namun, untuk kali ini goncangan itu kian terasa.
“Ya, dulu ada peningkatan harga biasanya bareng dengan harga BBM naik. Tapi saat ini tidak, tiba-tiba beras mahal, cabe mahal, daging mahal,” katanya.
Meski demikian, pasutri ini tetap ikhtiar agar pelanggan tetap datang ke warungnya. Salah satunya memberikan bonus lauk masakan oseng-oseng terong gratis yang khas di warung ini.
“Ya, memang porsinya dikurangi sedikit. Tapi, pelanggan tetap kangen dengan oseng-oseng terong yang katanya selalu dinanti. Pernah diganti dengan oseng kacang, malah nggak suka,” sambung Rojikin.
Sehari, kata Rojikin, warungnya mampu menghabiskan 400 nasi bungkus. Tapi, jumlah itu kadang naik jika dirinya melayani pesanan dari sejumlah instansi maupun kantor dan sekolahan. “Sehari itu antara 20 – 25 kilogram beras yang kita masak. Satu bungkus harganya tetap Rp 6 ribu. Dulu sebelum ini cuma Rp 5 ribu,” imbuhnya.
Rojikin menyebut, harga beras di Banyuwangi saat ini mencapai Rp 16,5 ribu sampai Rp 17 ribu perkilogram. Beras yang dipilih memang selalu kelas premium.
“Beras yang kami pakai itu premium, karena kualitasnya bagus dan awet untuk nasi bungkus. Selain itu jelas rasanya lebih nikmat. Pernah ganti yang murah, karena beras mahal tapi pelanggan justru mengeluh. Hasilnya, nasi juga mudah basi,” ujarnya.
Hal senada dirasakan Fatkhur, salah seorang pelanggan nasi bungkus Warung Kopi Rojikin. Dia mengaku harus keluar ongkos sarapan lebih karena porsi nasi bungkus berkurang. “Ya, biasanya itu satu bungkus nasi tambah teh dan kerupuk Rp 10 ribu sudah kenyang. Sekarang harus tambah satu bungkus lagi, tambah teh ongkosnya bisa sampai Rp 15 ribu sekali makan,” katanya.
Harapan dari pedagang, harga sejumlah kebutuhan pokok khususnya beras ini dapat segera turun. Karena, cukup berpengaruh pada perekonomian warga. “Minimal stabil sehingga kami yang usaha ini juga bisa mendapatkan hasil yang sesuai,” pungkasnya. (rin/kun)






