Surabaya (beritajatim.com)- Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla yang akrab disapa Gus Ulil menegaskan jika kekuatan oposisi nantinya berperan sangat penting sebagai penyeimbang dalam pemerintahan Prabowo-Gibran. Maka dari itu Gus Ulil berharap kedepan yang kalah tak bergabung ke pemenang Pemilu 2024.
Gus Ulil menegaskan hikmah politik yang dapat diambil dalam Pilpres 2024 ini sangat besar. Ia kemudian memetakan bahwa rencana PDI Perjuangan yang akan menjadi oposisi dari pemerintahan Prabowo-Gibran mendatang merupakan suatu hikmah politik yang patut disyukuri. Sebab akan ada penyeimbangan kembali terhadap jalannya roda pemerintahan.
Hal ini karena selama 10 tahun kepemimpinan Presiden Jokowi, PDIP sebagai pemenang Pilpres dan Pileg, hubungan antara eksekutif dengan legislatif menjadi kurang balance.
Namun Gus Ulil berharap banyak dengan peta politik yang saat ini ada mampu mewujudkan demokrasi yang seimbang dengan adanya kekuatan oposisi yakni PDIP, PKS dan PKB.
“Ini menurut saya hikmah politik ya. Kita berharap bahwa di dalam lima tahun mendatang ada re-balancing (penyeimbangan kembali) di mana ada kekuatan kritis, ada kekuatan penyeimbang di dalam parlemen, di luar parlemen, dan kita berharap yang kalah saat ini itu tidak bergabung dengan yang menang ya,” harapnya.
Ia kemudian mengungkapkan bahwa tradisi politik Indonesia, pemenang selalu ingin merangkul yang kalah, dan itu merupakan bagian dari budaya politik Indonesia.
“Tradisi politik Indonesia, itu pemenang selalu ingin merangkul yang kalah, ini bagian dari budaya politik kita memang. Kita tidak bisa komplain atau apa tapi ya begitu faktanya,” ujarnya dilansir dari kanal Youtube NU Online.
Oleh karena itu, ia berharap bahwa dalam lima tahun mendatang, akan terjadi penyeimbangan di mana kekuatan kritis dan penyeimbang akan lebih signifikan.
“Kita berharap bahwa di dalam lima tahun mendatang minimal menjadi rebalancing (penyeimbangan kembali) di mana ada kekuatan kritis, ada kekuatan penyeimbang di dalam parlemen, di luar parlemen, dan kita berharap yang kalah saat ini itu tidak bergabung dengan yang menang ya,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa meskipun budaya politik Indonesia mengutamakan harmoni, keselarasan, dan kerukunan, keberadaan kekuatan oposisi yang cukup kuat tetaplah penting. [aje]






