Jember (beritajatim.com) – Partai Nasional Demokrat yakin akan memperoleh tambahan dua kursi DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, dalam pemilu kali ini. Lima tahun sebelumnya, Nasdem memperoleh delapan kursi.
“Ada dampak elektoral yang ditimbulkan dari pencalonan Pak Anies Baswedan menjadi presiden. Saya yakin ada peningkatan suara, walaupun tak terlalu signifikan. Kami masih pasang target memperoleh tambahan dua kursi,” kata Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Nasdem Jember David Handoko Seto, Kamis (15/2/2024).
Potensi tambahan kursi untuk Nasdem berada di Daerah Pemilihan 2 yang meliputi Kecamatan Rambipuji, Panti, Sukorambi, Patrang, Arjasa, Daerah Pemilihan 6 yang meliputi Jombang, Kencong, Gumukmas, dan Puger; dan Daerah Pemilihan 7 yang meliputi Sumberbaru, Umbulsari, Tanggul, Semboro, dan Bangsalsari.
Namun David menyesalkan adanya sejumlah insiden di tempat pemungutan suara, yakni tertukarnya surat suara antardaerah pemilihan. “Surat suara Dapil 1 tertukar di Dapil 5. Surat suara Dapil 7 tertukar di Dapil 3,” kata pria yang saat ini duduk sebagai anggora DPRD Jember ini.
“Kemudian ada juga pemilih yang tak diperkenankan masuk karena tak membawa undangan. Namun tak ada penjelasan dari KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara), bahwa mereka boleh kembali ke TPS setelah jam 12 siang, sehingga para pemilih yang awalnya datang mau memilih Nasdem akhirnya tidak kembali lagi,” kata David.
Padahal, lanjut David, para pemilih yang tak membawa undangan ini terdaftar di DPT (Daftar Pemilih Tetap). “Tapi mungkin karena mereka di desa, ketika tidak diperbolehkan masuk karena tidak membawa undangan dan tanpa penjelasan, mereka enggan kembali ke TPS,” katanya.
Hal ini sangat merugikan Nasdem. “Karena hal ini terjadi di beberapa titik TPS, dan saya pastikan kalau bicara tetukarnya surat suara tadi, di Kecamatan Jenggawah saja kami menemukan 400 lembar surat suara (Dapil 1) di sana. Artinya ketika bicara soal peluang, ada 400 suara yang tidak bisa dicoblos karena kertas suaranya tidak di Dapil 1,” kata David.
David juga menyoroti pemilih lanjut usia dan buta aksara. “Mereka sudah dibekali kartu saku, dan tidak boleh dikawal dalam TPS. Ada petugas KPPS yang mendampingi pencoblosan. Tapi kami hitung ada potensi suara yang hilang bagi Nasdem. Mungkin dari orang-orang yang tidak baca tulis tadi dan berbekal kartu saku. Saksi tidak boleh mendekat (ke bilik suara) oleh petugas KPPS, sehingga kami tidak tahu yang ditunjukkan atau dicobloskan yang mana,” katanya.
Nasdem akan berkonsolidasi untuk menyikapi sejumlah persoalan di lapangan, sebelum penghitungan suara akhir dan penetapan. “Kalau bicara kertas suara yang tertukar, ini bukan hanya kepentingan Nasdem, tapi semua partai. Bisa saja muncul gugatan ke KPU (Komisi Pemilihan Umum),” kata David.
Nasdem akan menginventarisasi semua persoalan tersebut. “Tidak menutup kemumgkinan juga kalau Nasdem merasa dirugikan, akan ikut menggugat. Tapi itu masih dalam tataran diskusi, belum ada keputusan,” kata David. [wir]






