Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Arif Fathoni, mengimbau seluruh kontestan Pemilu 2024 untuk taat aturan. Selain itu, mengedepankan tanggung jawab moral menjaga kondusivitas Kota Surabaya jelang pemungutan suara 14 Februari 2024 mendatang.
Toni memahami tensi politik yang menghangat selama masa kampanye merupakan hal wajar dalam iklim demokrasi. Menurutnya, itu justru menunjukkan demokrasi hidup di tengah masyarakat.
“Setiap perlombaan pasti ada persaingan. Semua mengerahkan segala tenaga dan pikiran untuk memenangkan hati masyarakat,” ujar Toni, Jumat (9/2/2024).
Toni menegaskan bahwa sistem demokrasi saat ini merupakan kesepakatan bersama. Pemilihan umum hanyalah sarana untuk merekrut pemimpin nasional dan lokal.
Oleh karena itu, dia berharap semua pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan melestarikan demokrasi, serta melakukan perbaikan di masa depan.
“Demokrasi saat ini memberikan peluang kepada siapapun untuk menjadi pelayan masyarakat, baik di eksekutif maupun legislatif. Kita punya kewajiban untuk terus membangun kesadaran publik bahwa pemilu hanya proses lima tahunan, tapi persaudaraan sebagai sesama anak bangsa itu selamanya,” kata Ketua Golkar Surabaya ini.
“Perbedaan pilihan adalah keniscayaan. Yang penting setelah 14 Februari, kita bersatu kembali agar pemerintah bisa langsung bekerja untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” tambahnya.
Mengenai potensi kerawanan di Kota Surabaya, Toni menyatakan bahwa upaya yang dilakukan oleh Wali Kota Surabaya bersama Forkopimda Surabaya sudah berjalan dengan baik. Mereka melakukan analisis potensi kerawanan dan pendekatan kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memelihara keamanan kota.
“Namun yang lebih penting dari itu, masyarakat Surabaya sudah memiliki spirit nilai-nilai kepahlawanan. Sehingga masyarakat Surabaya terbiasa dengan perbedaan dan keberagaman, dan itu menjadi pondasi yang kuat dalam membangun relasi sosial,” kata Toni.
“Seperti Pilkada 2020 lalu, meski berkompetisi dengan keras, begitu mandat rakyat diberikan kepada Mas Eri, rakyat langsung bersatu kembali mendukung rencana pembangunan kota,” tambah dia.
Toni juga mengungkapkan bahwa partai politik di Kota Surabaya selama ini membangun hubungan baik satu sama lain. Pertemuan regular digelar setiap satu bulan sekali yang diinisiasi oleh Wali Kota Surabaya.
“Sehingga ketika terjadi problematika di lapangan berkaitan dengan gerakan pendukung, langsung ada solusi. Hal itu dapat mencegah polarisasi tajam di bawah,” jelas Toni.
“Kuncinya adalah kedewasaan dalam politik. Sebagai makhluk pecinta demokrasi, kita harus meyakini Vox Populi Vox Dei, Suara rakyat suara Tuhan. Apapun hasil yang diberikan oleh masyarakat di tempat pemungutan suara nanti, ini soal beruntung dan tidak beruntung, bukan soal siapa yang terbaik. Semua kontestan pemilu adalah kader terbaik bangsa,” pungkas dia. [ADV]






