Mojokerto (beritajatim.com) – Memasuki pekan ke-4 bulan Januari tahun 2024, Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kota Mojokerto mengalami penurunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mojokerto, IPH Kota Mojokerto berada di angka -3,858 persen.
Capaian tersebut lebih besar jika dibandingkan pada pekan ke-3, yakni pada -3,46 persen dan pekan ke-2 yakni -3,018 persen. Serta jauh signifikan jika dibanding pekan awal bulan Januari 2024, yang justru mengalami kenaikan di angka 0,977 persen.
“Alahmdulillah trend IPH kita terus menurun. Semoga trend penurunan ini bisa berlanjut. Sehingga tidak ada kenaikan-kenaikan harga yang seringkali memberatkan masyarakat,” ungkap Pejabat (Pj) Wali Kota Mojokerto, Moh Ali Kuncoro, Senin (29/1/2024).
Terdapat sejumlah komoditas dengan andil perubahan harga tertinggi di Kota Mojokerto. Yaitu cabai rawit, cabai merah, dan telur ayam ras. Sejak awal bulan Januari, komoditas tersebut diketahui kerap mengalami perubaha harga secara signifikan.
Kecuali telur ayam ras yang menggantikan posisi ayam ras pada pekan ke-2. Menghadapi fenomena tersebut, salah satu upaya yang belakangan getol dilakukan oleh Pemkot Mojokerto adalah dengan membentuk Pracangan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).
Melalui Pracangan TPID, Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto dapat melakukan intervensi untuk mengendalikan sejumlah harga komoditas yang kerap mengalami kenaikan dan menyumbang terjadinya inflasi.
“Ditargetkan akan ada 26 titik Pracangan TPID pada Februari nanti. Di antaranya berlokasi di masing-masing kelurahan dan di setiap pasar rakyat. Dalam Prancangan TPID tersebut, Pemkot melalui Diskopukmperindag bekerja sama dengan Bulog Surabaya untuk mengontrol harga beras, mingak goreng, tepung, dan gula pasir,” katanya.
Sementara untuk komoditas bumbu dapur lainnya, seperti cabai, bawang merah dan bawang putih, intervensi diberikan berupa subsidi transport. Sehingga harga-harga komoditas tersebut di Pracangan TPID bisa menjadi lebih murah. [tin/aje]






