Jember (beritajatim.com) – Calon presiden nomor urut 1, Anies Baswedan, menawarkan konsep tol berkeadilan untuk menjawab dampak negatif pembangunan jalan tol oleh pemerintah terhadap masyarakat.
Konsep tol berkeadilan muncul setelah Anies menyaksikan banyaknya sektor usaha rakyat yang gulung tikar, karena pembangunan tol trans Jawa. Ia memandang pembangunan infrastruktur tak seharusnya meminggirkan kesejahteraan warga.
Ketua Tim Kampanye Daerah Prabowo-Gibran Jawa Timur, Emil Dardak, menyebut pembangunan jalan tol di era Joko Widodo berkesinambungan dengan pembangunan yang dilakukan sejak pemerintahan Presiden Soeharto.
“Pertama kali tol yang dibangun adalah tol Jagorawi, semua ingin berkeadilan. Semua ingin mengungkit ekonomi. Pada akhirnya jangan hanya lihat jalan tol sebagai bisnis, tapi jalan tol punya daya ungkit luar biasa pada perekonomian wilayah,” kata Emil, ditulis Senin (29/1/2024).
Menurut Emil, pembangunan jalan tol baru bisa dirasakan dalam jangka panjang. “Sebenarnya Pak Jokowi punya prinsip ganti untung. Dengan adanya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pembebasan Lahan untuk Kepentingan Umum, dipastikan harus ada penilaian atau apraisal yang memberikan kesejahteraan bagi masyarakat terdampak,” kata Emil.
Emil mengatakan, terbuka ruang bagi pelaku usaha lokal di rest area jalan tol. “Sebelum jadi bupati (Trenggalek), saya biasa mengurus keuangan untuk infrastruktur. Infrastruktur adalah investasi yang sangat jangka panjang. Rate of return-nya meskipun baik, tapi bagi pelaku usaha kecil, mungkin mereka lebih senang uang yang berputar lebih cepat, break event point atau titik impasnya juga lebih cepat,” jelasnya.
“Jadi mungkin tidak bisa disamaratakan bahwa semua masyarakat akan memilih mendingan dapat dana di depan, atau ditunda dananya dalam bentuk investasi jangka panjang. Itu kembali pada pilihan masyarakat,” kata Emil.
Khusus di Jatim, Emil mengatakan, penggunaan tol Surabaya-Solo semakin tinggi. “Salah satunya kita melihat pabrik-pabrik padat karya mulai berkembang di daerah Madiun, di wilayah Nganjuk,” katanya.
Pengusaha berani membuka investasi di wilayah-wilayah tersebut karena akses transportasi lebih terjamin. “Ini adalah tanda-tanda geliat industri berkembang. Tidak hanya terpusat di ring satu: Surabaya; Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Pasuruan,” kata Emil. [wir/beq]






