Jember (beritajatim.com) – Selama ini semua rute penerbangan komersial di Bandara Notohadinegoro, Kabupaten Jember, Jawa Timur selalu mengarah ke dan dari Surabaya. Bambang Haryadi, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, menyarankan kepada Pemerintah Kabupaten Jember, untuk membuka rute Jember-Bali dan Bali-Jember.
“Kenapa kita harus benar-benar mengutamakan rute, karena berimplikasi terhadap pemenuhan target penumpang yang harus terisi dalam satu kali penerbangan. Perlu ada kajian khusus Pemkab Jember untuk menetapkan rute,” kata Bambang, Sabtu (27/1/2024).
Menurut Bambang, rute penerbangan dari Jember tidak boleh sama dengan rute penerbangan dari Banyuwangi yang berdekatan. “Saya pernah berinisiatif mengubah rute terbang ke rute yang punya tujuan besar, dan kita tidak bisa hanya mengkalkulasi berdasarkan perkiraan semata. Kita harus berdasarkan data,” katanya.
“Saya pikir kalau rute ke Surabaya sangat terganggu dengan rute transportasi lainnya, baik yang lewat darat dengan jalan tol maupun kereta api. Jadi saya pikir, potensi jalur penerbangan Jember-Surabaya sangat kecil untuk memenuhi target penumpang,” kata Bambang.
“Kita tidak bisa bergantung pada subsidi, (target penumpang) kita isi dengan APBD. Tidak boleh dong. Jadi bagaimana membuat konsep agar setiap hari pesawat penuh,” kata Bambang.
Bambang sudah berdiskusi dengan sejumlah kalangan untuk membicarakan penerbangan di Jember. “Coba kita ambil deh data dari ASDP (PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Indonesia Ferry) di Banyuwangi. Saya mendapat informasi dan data yang kami dapat, penyeberangan di Banyuwangi hampir didominasi masyarakat Jember dan sekitarnya. baik berwisata maupun pergi bekerja,” katanya.
Dari sini Bambang berkesimpulan, rute penerbangan Jember-Bali dan Bali-Jember sangat rasional. “Ibaratnya memotong waktu dan tidak ada saingannya. Perjalanan darat dari Jember ke Bali jauh memakan waktu dan costnya juga tinggi. Jadi saya pikir ini bisa dipertimbangkan Pemkab Jember.” katanya.
Penerbangan ke Bali juga sangat potensial, karena Bandara Ngurah Rai menuju ke semua wilayah. “Orang mau ke luar negeri pun bisa dari Bali,” kata Bambang.
“Saya pikir rute Jember-Bali jadi solusi. Toh perhitungan waktu penerbangan Jakarta-Surabaya dan Jakarta-Bali toh berselisih 20 menit. Saya pikir orang Jakarta yang mau ke Jember bisa melalui bandara Bali untuk kemudian terbang dari Bali ke Jember,” jelas Bambang.
Bambang mengaku pernah berkomunikasi dengan Maskapai Citilink. “Citilink membuka diri untuk penerbangan di Jember. Tapi target minimum biaya satu kali terbang harus dipenuhi. Ini jadi pekerjaan rumah kita untuk memenuhi target minimum penumpang,” katanya.
Penerbangan Jember-Bali jika terealisasi harus diimbangi harga tiket yang tak terlampau mahal. “Tidak berselisih jauh dengan biaya perjalanan darat. Selisih Rp 100 ribu, orang cukup terbang selama 20 menit dibandingkan perjalanan darat yang memakan waktu tujuh jam,” kata Bambang.
Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Jember Agus Wijaya mengaku kesulitan mendatangkan maskapai penerbangan untuk terbang di Notohadinegoro. Semua maskapai meminta jaminan kepastian pemenuhan target jumlah penumpang minimal. Pemkab Jember tidak bisa berbuat banyak, karena tak bisa menyuntikkan subsidi. [wir]






