Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 4 film dokumenter karya mahasiswa Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya ditayangkan di CGV Maspion Square Surabaya.
Dengan tema ‘Bertahan’, film buatan mahasiswa Communication Science itu mengangkat isu budaya hingga sosial masyarakat Surabaya dan sekitarnya.
Dosen pengampu Daniel Budiana mengatakan, masing-masing film berdurasi sekitar 20 menit. Film menampilkan kisah perjuangan dalam bertahan, baik bertahan dari kesengsaraan maupun ancaman kepunahan.
“Lewat kelas ini, mahasiswa dapat berinteraksi secara intens dengan masyarakat. Sehingga, ke depannya mereka mampu menampilkan cerita hidup yang menarik dari tiap narasumber, maupun tema yang diangkat,” ujar Daniel, Jumat (26/1/2024).
Ia menambahkan, masing-masing kelompok mengangkat isu tentang budaya, maupun kehidupan sosial masyarakat Surabaya dan sekitarnya.
Misalnya kehidupan perempuan kuli panggul di Pasar Pabean Surabaya, petani garam di Asemrowo, pelestarian permainan tradisional Indonesia, serta olahraga tradisional Gulat Okol.
Berikut sinopsis 4 film dokumenter karya mahasiswa UK Petra Surabaya tersebut :
1. HADIYAH
Film dokumenter ini bercerita tentang perempuan kuat berbeban ganda, yakni sebagai seorang ibu dan kuli panggul di Pasar Pabean, Surabaya.
Setiap hari Hadiyah harus mengumpulkan uang dengan memikul puluhan kilo karung di kepalanya. Ia tak menyerah meski beban hidup yang dihadapi sangat berat.
Bayang-bayang akan anak balitanya, membuat Hadiyah terus semangat untuk melanjutkan perjuangan. Ditambah dengan cinta kasih dari keluarga yang selalu menjadi penyemangat Hadiyah untuk tetap bertahan dalam kerasnya kehidupan.
2. PELANGI GARAM
Film berjenis poetic documentary ini menyajikan kehidupan Kampung Pelangi di Kecamatan Asemrowo yang sejak puluhan tahun lalu menjadi daerah penghasil garam di Surabaya.
Tambak seluas 20 hektar itu digarap oleh para petani garam dari Madura. Dalam setiap butir garam yang terbentuk, tersimpan kisah perjuangan dan kebahagiaan para petani.
Misalnya selama hujan berlangsung, garam tidak bisa diproduksi lagi sehingga mengharuskan mereka untuk pulang ke tempat asalnya, yakni Madura.
Namun bagi mereka, bahagia itu bukan tentang mendapat semua yang diinginkan, tapi tentang mensyukuri segala sesuatu yang telah diberikan kepada mereka.
3. GAMBRENG
Film ini berkisah tentang salah satu warisan budaya Indonesia, yaitu permainan tradisional atau dolanan. Permainan tradisional tak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tapi ada pelajaran berharga di dalamnya.
Sayangnya di era kemajuan teknologi ini, permainan tradisional mulai terlupakan. Anak-anak mulai teralihkan dengan kecanggihan teknologi.
Bukan tak mau bermain permainan tradisional, tapi tidak ada yang mengenalkannya kpada mereka. Lantas bagaimana nasib permainan tradisional ke depannya ? Siapa yang akan melestarikan dan peduli permainan tradisional?
4. GULAT OKOL: BROTHERHOOD RIVALRY
Sebuah duel di atas gelanggang jerami, mata bertatap-tatapan untuk mengawasi dan menunggu momentum yang tepat. Tak satupun senjata tajam terlihat, hanya kekuatan fisik sebagai bekal menjatuhkan lawan.
Penampilan dua orang yang saling adu ketangkasan dalam teknik pegangan dan bantingan yang dikenal dengan Gulat Okol ini, dikisahkan dalam film dokumenter berjudul Gulat Okol: Brotherhood Rivalry.
Gulat Okol adalah olahraga tradisional yang hanya bisa ditemukan di beberapa wilayah Jawa Timur, salah satunya di Sambikerep, Surabaya Barat, yang mana Gulat Okol sekarang menjadi hiburan masyarakat setempat. [ipl/beq]






