Kediri (beritajatim.com) – Ketua DPD PSI Kabupaten Kediri Dian Widi Asmoro memberikan klarifikasi atas kasus komunitas seniman yang ditelantarkan saat kampanye di Lapangan Desa Ringinrejo, Kecamatan Ringinrejo, pada Selasa (23/1/2024). Widi meminta maaf atas kejadian itu dan mengakui terjadi mis-komunikasi.
“Bukan penelantaran. Tapi masih ada mis-komunikasi antara kami, DPD, dengan pihak panitia lokal di sana,” kata Widi di rumah koordinator Komunitas Pecut Samandiman Kota Kediri, Kamis (25/1/2024).
Widi menjelaskan kronologi kejadian tersebut. Awalnya, dia mendapat pengarahan untuk mencari relawan atau simpatisan untuk menghadiri kampanye akbar PSI di Lapangan Desa Ringinrejo.
Dalam pengarahan tersebut, setiap relawan yang datang diminta untuk mengisi daftar hadir dan mendapatkan kaus di lokasi. Kemudian, pada sore harinya akan mendapat uang transportasi Rp50 ribu per orang.
“Data estimasi saya 2.863 orang. Setelah dikroscek ada 2.032 orang. Sebab, yang 600 orang itu data dari lokal Desa Ringinrejo, dengan panitia di sana diminta,” jelas Widi.
Sehingga tinggal 1.432 orang yang berhak menerima uang transport itu. Jika setiap orang diberi Rp50 ribu, maka total uang transport yang harus dikeluarkan sebanyak Rp71.600.000.
“Karena di depan saya sudah menunggu beberapa koordinator lapangan yang membawa massa, kemudian saya bagikan uang transport kurang lebih Rp19.100.000,” beber Widi.
Saat hendak pindah lokasi pemberian uang transport, Widi mengaku tiba-tiba ditarik oleh salah satu panitia dan dibawa masuk ke rumah. Panitia tersebut meminta Widi untuk mencocokan kembali data simpatisan.
“Mas ini kita kroscek lagi, nggih. Soalnya yang tidak ada nomor HP-nya, sesuai kesepakatan kita, tidak bisa dicairkan. Dengan alasan bla bla bla, ya wis, sudah, monggo,” jabar Widi.
Padahal, Widi ingat betul tidak ada kesepakatan tersebut. Dalam pengarahan, dia hanya diminta menghadirkan simpatisan.
Kemudian saat tiba di lokasi, mereka diminta mengisi daftar hadir dan mendapatkan kaus dari panitia.
“Yang intinya, saya setor massa, by name by person. Orangnya ada dan saya ke TKP bawa tukang foto ada empat orang. Pasti siap dokumentasi. Itu beliaunya tetap kekeh tidak bisa dicairkan,” terus Widi.
Di dalam rumah tersebut, kata Widi, panitia tersebut menelepon beberapa nomor simpatisan di daftar hadir. Dari kroscek itu, jelas Widi, ada yang tidak bisa dihubungi namun ada juga yang menjawab hadir dalam kampanye.
Proses kroscek tersebut berlangsung cukup lama, dari selesai kampanye hingga pukul 22.00 WIB. Sehingga banyak simpatisan yang memilih pulang, termasuk diantaranya komunitas pecut.
“Akhirnya di situ tinggal saya dengan 7 orang. Ya wis, dengan itu saya disuruh pulang. Saksinya ya itu, 7 orang itu. Saya keluar dari rumah ya tidak bawa apa-apa. Uang sisa sekitar Rp52.500.000 itu dibawa panitia lagi,” terangnya.
Widi pun meminta maaf kepada seluruh simpatisan yang hadir dan belum mendapatkan haknya. Dia berjanji segera menyelesaikan masalah tersebut.
“Harapan saya, masalah miss komunikasi dengan kumunitas pecut ini ada kebijaksanaan dari ketua saya untuk memberikan haknya kawan-kawan. Saya hanya bisa memohon maaf kepada para simpatisan yang kemarin sudah rawuh, tapi masih belum mendapatkan haknya. Izinkan saya menjalin komunikasi dulu dengan pimpinan saya, nanti hasil kebijaksanaanya bagaimana,” ungkap Widi.
Widi akan menghadap Ketua DPW PSI Jawa Timur untuk melaporkan masalah tersebut. Dia berjanji menuntaskan perkara itu dalam waktu 5 hari ke depan.
Sebelumnya, komunitas seniman mengaku ditelantarkan saat kampanye PSI yang dihadiri Ketua Umum Kaesang Pangarep di Lapangan Desa Ringinrejo, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri pada Selasa (23/1/2024). Padahal, mereka datang ke kampanye tersebut lantaran dimobilisasi oleh oknum panitia.
Koordinator Pecut Samandiman Kota Kediri Agus Valentino mengaku, komunitasnya menjadi salah satu kelompok simpatisan yang ditelantarkan tersebut. Paguyuban ini diminta untuk mengerahkan ribuan seniman pecut oleh oknum caleg PSI dan pengurus DPD PSI Kabupaten Kediri.
Tetapi setelah tiba di lokasi kampanye terbuka, mereka tidak ‘diopeni’. Tidak diberi makan maupun minum. Bahkan, mereka harus merogoh kocek pribadi untuk membeli BBM.
“Kami kerahkan massa sejumlah 2.000 orang dari warga Kediri. Tetapi sampai di tempat, kami ditelantarkan,” ucap Agus Valentino.
Agus mengaku, para seniman Pecut Samandiman kecewa. Sehabis kegiatan kampanye, mereka berusaha menghubungi pengurus DPD PSI untuk meminta pertanggungjawaban namun tidak ditanggapi.
“Saya pusing. Teman-teman semua nguber (mencari) untuk meminta pertanggungjawaban,” pungkas Valentino dengan nada kecewa. [nm/beq]






