Jakarta (beritajatim.com) – Dengan tema Pembangunan berkelanjutan, lingkungan hidup, sumber daya alam, energi, pangan, agraria, Masyarakat adat, dan desa, debat ketiga calon wakil presiden (cawapres) 2024 digelar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) tiga minggu sebelum pemilihan presiden (pilpres). Pasangan calon (paslon) nomor urut 3 Ganjar Pranowo dan Mahfud MD tampil percaya diri dengan persiapan yang maksimal.
“Persiapan kami tidak hanya meliputi substansi dan data, tetapi juga busana yang sesuai dengan latar belakang dan rekam jejak kami, serta tema debat. Busana yang kami kenakan juga merupakan bentuk apresiasi kami terhadap enam alokal buatan anak bangsa,” ujar Deputi Kanal Media Tim Pemenangan Nasional (TPN), Karaniya Dharmasaputra.
Ganjar-Mahfud memilih kemeja pecinta alam yang dibuat khusus oleh jenama HoyaFields dari Bandung, yang berkaitan dengan isu-isu ekonomi hijau dan biru yang menjadi salah satu visi mereka. “Kemeja jenama lokal ini juga mencerminkan keseharian Ganjar-Mahfud yang akrab dengan rakyat, tidak pernah bosan untuk turun ke lapangan dan merasakan energi rakyat Indonesia,” kata Karaniya.
Ganjar lahir di sebuah desa di kaki Gunung Lawu, dan sejak kecil sudah suka mendaki gunung. Saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Ganjar menjadi anggota organisasi mahasiswa pecinta alam Majestic-55 (Mahasiswa Justicia Club). Ganjar kemudian terpilih menjadi ketua organisasi itu pada periode 1988-1990. Ganjar juga menunjukkan cintanya pada alam dengan memberi nama anaknya dengan kata ‘Alam’, dengan harapan agar menjadi anak yang kuat, peka, dan peduli.
Mahfud MD sebagai cawapres juga memiliki rekam jejak yang baik dalam hal alam Indonesia. Menurutnya, kepastian hukum sangat penting dalam mengawasi kebijakan yang bertujuan menjaga kelestarian alam nusantara. Saat menjabat sebagai Ketua MK pada 2011, Mahfud MD mengeluarkan putusan yang menegaskan hak konstitusional nelayan dalam uji materi Undang-Undang nomor 27 tahun 2007 tentang hak pengusahaan perairan pesisir (HP3). Mahfud pernah membatalkan 14 pasal dalam undang undang itu karena bertentangan dengan kepentingan rakyat. “Putusan ini juga mendorong partisipasi rakyat dalam pengelolaan dan pemerataan sumber daya alam, serta pengakuan terhadap masyarakat adat yang menjaga keberlanjutan lingkungan dengan kearifan lokal,” jelas Karaniya.
Karaniya menambahkan, “Penampilan ala pecinta alam ini sejalan dengan visi Ganjar Mahfud untuk mewujudkan negara maritim yang adil dan lestari dan mempercepat pembangunan dan lingkungan hidup yang berkelanjutan melalui ekonomi hijau dan biru.”
Busana yang Bermakna Ganjar-Mahfud memasuki lokasi debat di Jakarta Convention Center Senayan dengan penampilan khas pecinta alam; kemeja tactical outdoor berwarna khaki dan hijau dilengkapi syal ala pendaki yang diikat di leher dengan gambar ikon angka 3 dan slogan ‘sat-set tas-tes selesai’. Kemudian, Ganjar-Mahfud mengangkat tangan mereka membentuk gestur yoga tiga jari mudra pertiwi dan berteriak “Salam Bumi”.
Mudra pertiwi (pritivhi mudra) adalah gestur meditasi yang berhubungan dengan elemen bumi atau tanah. Gestur dengan tiga jari terangkat ini menyeimbangkan energi di dalam tubuh dan menyelaraskan dengan bumi dalam harmoni. Sikap “membumi” yang muncul akan menimbulkan rasa aman, tenang, dan stabil, serta menguatkan tubuh secara fisik. Menyatu dengan bumi akan menyembuhkan diri.
Mudra pertiwi menjadi inspirasi “Salam Bumi”. “Makna-makna busana dan gestur Ganjar-Mahfud menunjukkan bahwa keduanya memiliki semangat kepemimpinan yang berpihak pada rakyat dan alam Indonesia,” tutup Karaniya. (ted)






