Surabaya (beritajatim.com) – Pakar Komunikasi Kesehatan Unair Liestianingsih Dwi Dayanti mengatakan jika sosialisasi pencegahan polio tidak cukup mengandalkan pendekatan kesehatan. Perlu adanya pendekatan budaya.
Ia menjelaskan, pada 2014 silam sejatinya Indonesia sudah dinyatakan bebas polio. Hanya saja, dalam 10 tahun terkahir, alih-alih bertahan sebagai negara bebas polio, angka kasus polio kini justru meningkat.
Lies menyebut, kemunculan kasus polio tersebut disebabkan oleh banyak hal. Misalnya rendahnya cakupan imunisasi, lingkungan yang tidak bersih, aktivitas keluar-masuk, dan gaya hidup tidak sehat.
“Inilah yang menyebabkan pemerintah harus cepat tanggap dalam mengatasi urgensi sosialisasi vaksinasi polio di Indonesia. Pencegahan polio melalui vaksinasi menjadi sangat penting,” kata Lies, Jumat (19/1/2024).
Ia menambahkan, penyakit polio hanya bisa dicegah dengan melakukan imunisasi lengkap dan rutin. Selain itu, juga bisa dengan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Lies menilai, upaya pemerintah mensosialisasikan vaksinasi polio sudah cukup baik. Akan tetapi, tidak semua masyarakat Indonesia mampu memahami urgensi vaksinasi polio dengan baik.
“Ada beberapa kelompok justru menolak semua vaksinasi termasuk vaksinasi polio karena bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka yakini. Inilah tantangan dalam sosialisasi vaksinasi yang menjadi PR bagi pemerintah,” ujar Lies.
Karena itulah, sosialisasi pencegahan polio tidak cukup hanya dengan mengandalkan pendekatan kesehatan, tetapi juga pendekatan budaya. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat seperti tokoh agama, tokoh adat, dan lain-lain.
Sosialisasi vaksinasi polio juga perlu menyasar ke seluruh Indonesia termasuk wilayah 3T. Contohnya sosialisasi di sekolah-sekolah ataupun petugas vaksinasi yang langsung menyebar ke masyarakat layaknya vaksinasi Covid-19. Dengan demikian, sosialisasi vaksinasi polio dapat menjangkau seluruh elemen masyarakat.
Meski saat ini aksi sosialisasi vaksinasi polio belum merata, tetapi Lies berharap seluruh sektor yang bergerak pada bidang kesehatan, termasuk kampus, mampu konsisten mensosialisasikan urgensi vaksin polio di masyarakat agar semakin banyak masyarakat yang teredukasi.
Selain itu, sebagai agent of change, mahasiswa FISIP Unair khususnya, diharapkan dapat mengambil peran untuk menjadi fasilitator pencegahan polio di Indonesia. “Misalnya mensosialisasikan urgensi vaksinasi polio atau menyadarkan masyarakat tentang bahaya penyakit polio,” pungkasnya.
Diketahui, Jawa Tengah dan Jawa Timur kini berstatus KLB Polio. Sebab itulah, pemerintah kembali menggalakkan Vaksinasi Sub PIN Polio. Data terbaru Kemenkes RI menyebut jika 415 kabupaten/kota di 30 provinsi juga masuk kategori risiko tinggi polio, yang disebabkan oleh rendahnya vaksinasi. [ipl/ted]






