Surabaya (beritajatim.com) – Tahun 2018 silam pneumonia merenggut nyawa sebanyak 880 ribu lebih balita di seluruh dunia. Sebagian besar kematian terjadi pada anak berusia di bawah dua tahun, dan nyaris 153 ribu kematian terjadi pada bulan pertama kehidupan.
dr Nastiti Kaswandani dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan, angka kematian anak akibat pneumonia lebih tinggi dibandingkan penyakit lainnya.
“Diare menyebabkan kematian 437 ribu anak balita, sedangkan malaria merenggut nyawa 272 ribu anak,” ungkap dr Nastiti dalam Seminar Briefing secara daring, Kamis (11/1/2024).
Ia menyebut, lembaga kesehatan dan anak memeringkatkan satu anak meninggal akibat pneumonia setiap 39 detik. “Indonesia peringkat 6 jumlah kematian pneumonia,” kata dr Nastiti.
Nastiti juga memberikan sejumlah pesan untuk pencegahan pneumonia, di antaranya dengan memberikan ASI ekslusif, nutrisi, vitamin A, dan menghilangkan factor risiko seperti asap rokok.
Selain itu, pola hidup bersih sehat (PHBS), mengenakan masker dan menghindari kontak dengan orang sakit juga dapat meurunkan risiko pneumonia.
“Imunisasi terkait pneumonia seperti penumokokus (PCV), HiB, influenza berperan menurunkan angka kematian balita dan beban penyakit pneumonia dan resistensi antibiotic,” papar Nastiti.
Ia juga menekankan pentingnya imunisasi. Menurutnya melakukan imunisasi tak boleh untuk ditunda-tunda. Artinya, imunisasi menjadi aman ketika diberikan sesuai dengan jadwalnya.
Tak hanya itu, kata dr Nastiti, imunisasi terkait pneumonia seperti penumokokus (PCV), HiB, influenza berperan menurunkan angka kematian balita dan beban penyakit pneumonia dan resistensi antibiotic.
“Imunisasi ulangan (booster) juga penting untuk mempertahankan kekebalan. Efek samping imunisasi jauh lebih ringan daripada risiko penyakit yang dicegah oleh imunisasi,” tandasnya. [ipl/ian]






