Ponorogo (beritajatim.com) – Dalam proses sortir lipat yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ponorogo, ada ratusan surat suara yang rusak. Data KPU Ponorogo per tanggal 7 Januari 2024, tercatat ada 750 surat suara yang tersortir karena rusak. Ada beberapa penyebab surat suara yang sedang disortir lipat di gudang KPU Ponorogo itu, mengalami kerusakan. Kerusakan surat suara itu, dikarenakan surat suara sobek, kena tinta, dan ukuran surat siara tidak sesuai.
“Ya mayoritas surat suara rusak itu, karena sobek, kena tinta dan kelebihan ukuran kertas, lebih panjang atau lebih besar dari ukuran standarnya,” kata Ketua KPU Ponorogo Munajat, Senin (08/01/2024).
Mengenai surat suara yang rusak itu, kata Munajat pihaknya selalu melaporkan perkembangan setiap harinya. Dirinya pun sudah melayangkan surat untuk dilakukan pergantian surat suara yang rusak itu, dengan surat suara yang baru. “Sudah kita laporkan dan kita juga sudah minta pergantian,” katanya.
Terkait dengan surat suara yang rusak itu, KPU Ponorogo saat ini masih menyimpannya. Nantinya, akan ada mekanisme untuk melakukan pemusnahan terhadap ratusan kertas suara yang rusak tersebut. “Pemusnahan itu nanti terakhir, ada mekanismenya sendiri,” katanya.
Untuk diketahui, ada ratusan warga Ponorogo menjadi tenaga harian lepas untuk pengerjaan sortir dan melipat surat suara pemilihan umum (Pemilu) 2024. Sortir dan melipat ini, sudah dimulai sejak Rabu (04/01), saat surat suara DPRD kabupaten/kota dan DPD tiba di gudang Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ponorogo.
Ketua KPU Ponorogo Munajat mengungkapkan petugas yang melakukan sortir dan lipat surat suara ini, ditargetkan 300 orang. Supaya pengerjaannya cepat selesai. Namun, hari pertama pensortiran dan pelipatan, yang hadir masih 200 orang. Dimana untuk melipat sekitar 775.210 surat suara untuk DPRD kabupaten/kota, petugas harian ini dibagi menjadi 20 tim. Dimana setiap tim terdiri dari 10 orang. “Setiap tim ada ketuanya yang melakukan koordinasi untuk pensortiran dan pelipatan,” katanya.
Petugas pensortiran dan pelipatan ini, mayoritas merupakan emak-emak. Hal itu dikarenakan mereka yang sudah berpengalaman. Sudah ikut berpartisipasi dalam pensortiran dan pelipatan beberapa kali Pemilu maupun Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sebelumnya. Namun, juga ada beberapa orang yang masih baru kali ini melakukan pelipatan.
“Untuk pensortiran dan pelipatan ini, kita berdayakan warga sekitar gudang yang mayoritas emak-emak. Ada yang sudah berpengalaman dan ada yang memang baru sekali ini,” pungkas Munajat. (end/kun)






