Blitar (beritajatim.com) – Ragil Sukarno alias Erlin (50) pemilik penampungan anjing di Jalan Sulawesi, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar yang ditemukan tewas bersimbah darah bersama volunteernya Luciani, ternyata memiliki rekam jejak yang kelam terhadap pembantunya.
Ragil alias Erlin pernah tidak membayarkan 5 bulan gaji milik pembantunya. Padahal sang pembantu sebelumnya dijanjikan gaji sebesar Rp3,1 juta. Perlakuan Ragil tersebut membuat sang pembantu memilih kabur dari tempat penampungan anjing.
Menurut warga, sang pembantu kabur dengan melompat pagar. Setelah itu sang pembantu ditolong oleh warga sekitar dan diantarkan ke Terminal Tipe A Patria Blitar.
“Yang dulu itu 5 bulan bahkan pembantunya tidak dibayar tapi, sampai lari dan diantarkan ke terminal,” kata Mahmudi, Tetangga sekitar, Rabu (3/1/2024).
Selain itu, 2 pekan sebelum kejadian pembunuhan, seorang pembantu Ragil asal Lamongan juga kabur dari tempat penampungan anjing tersebut. Meski masih bekerja 1 hari namun sang pembantu yang masih berusia 15 tahun memilih kabur.
Saat kabur dari penampungan anjing, sang pembantu mengalami luka di bagian tangan. Luka itu terjadi usai ia digigit anjing yang berada di shelter.
“Yang terakhir ini wanita berusia 15 tahun yang baru bekerja sehari di sini juga kabur, karena tidak betah dan usai digigit anjing,” imbuhnya.
Dari keterangan yang diperoleh dari para pembantu, sang majikan yakni Ragil alias Erlin terkesan tidak bertanggung jawab. Selain tidak memberikan gaji, sang majikan juga tidak mau tahu soal kondisi sang pembantu yang tergigit anjing ataupun kucing.
“Tidak pernah bertanggung jawab, tidak mau tahu dengan kondisi sang pembantu,” tegasnya.
Menurut warga sekitar, Erlin memperlakukan pembantunya layaknya hewan peliharaan. Sang pembantu tidak boleh keluar rumah.
Jika Erlin pergi maka pintu gerbang akan dirantai dari luar. Sang pembantu pun dilarang berinteraksi dengan warga sekitar.
“Ya diperlakukan kayak anjingnya ini, kalau keluar gerbang itu dirantai dari luar, tidak boleh berinteraksi,” tegasnya.
Diketahui selama ini Erlin selalu memiliki 2 orang pembantu. Namun menurut warga pembantu Erlin berasal dari luar Kota Blitar.
Erlin sendiri tidak pernah melaporkan siapa saja pembantunya ke pihak RT setempat. Sehingga warga sekitar dan RT tidak tahu siapa saja yang menghuni rumah sekaligus tempat penampungan anjing tersebut.
“Tidak pernah laporan, jadi tidak tahu siapa saja dan dari mana pembantu-pembantunya itu,” tutupnya.
Sebelumnya, Erlin (47) dan sang pembantu ditemukan meninggal dunia dengan kondisi membusuk. Erlin atau yang biasa disapa sinyo ditemukan meninggal di bagian dapur rumah. Sementara sang pembantu meninggal di teras rumah. [owi/beq]






