Gresik (beritajatim.com)– Tanaman hortikultura cabai rawit dan merah di wilayah Kabupaten Gresik, menjadi pendorong inflasi pada akhir tahun 2023.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Gresik, Eko Andhito Putro menuturkan, inflasi bulanan didominasi oleh komoditas hortikultura yaitu cabai rawit, cabai merah dan bawang merah.
“Harga cabai di ujung tahun 2023 mengalami kenaikan harga karena dampak El Nino. Ini berdampak pada produksi hortikultura khususnya cabai. Produksi cabai mengalami penurunan sedangkan permintaan cenderung naik sehingga harga mengalami kenaikan,” tuturnya.
Ia menambahkan, saat ini harga cabai tembus di angka Rp 100 ribu perkilogram. Sehingga, menyebabkan daya beli masyarakat menurun.
“Arahan Bu Wabup ada 6 langkah strategis untuk mengendalikan inflasi. Salah satunya mengeluarkan surat edaran (SE) bupati nomor 29 tahun 2022 tentang himbauan menanam cabai secara mandiri di pekarangan rumah masing-masing,” imbuhnya.
Wabup Aminatun Habibah (Bu Min) menyatakan sebelum tutup tahun 2023. Gresik ditetapkan sebagai IHK dari perwakilan Kab/Kota se-Jawa Timur.
“Pergerakan harga di Kabupaten Gresik menjadi acuan harga di Kab/Kota di Jawa Timur,” ungkapnya.
Tidak hanya itu lanjut dia, Kabupaten Gresik juga ditetapkan sebagai kabupaten dengan ketahanan pangan terbaik dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua secara nasional oleh pemerintah pusat.
“Adanya gerakan menanam cabai di pekarangan rumah. Masyarakat tidak perlu lagi membeli cabai di pasar,” tandasnya. (Dny/Aje)






